Kabarjatim.com, SURABAYA – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mulai menghangat dengan munculnya berbagai gagasan strategis mengenai arah kepemimpinan masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Salah satu usulan konkret datang dari Netra Bakti Indonesia (NBI) yang menyodorkan rancangan komposisi kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2026-2031.
Formulasi kepemimpinan yang ditawarkan NBI memadukan secara harmonis antara otoritas keulamaan para kiai sepuh dengan kapasitas intelektual generasi muda yang progresif. Konsep kolaborasi lintas generasi ini dinilai krusial agar NU tetap kokoh menjaga tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus responsif dalam menjawab tantangan zaman yang kian kompleks.
Ketua Umum NBI, Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, menegaskan bahwa NU saat ini membutuhkan nahkoda yang tidak hanya kuat secara teologis, tetapi juga adaptif terhadap gempuran teknologi, perubahan sosial, serta dinamika global.
“NU membutuhkan kombinasi antara kedalaman ilmu para kiai dan energi pembaruan dari generasi intelektual muda. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Justru harus dipadukan agar NU tetap menjadi penuntun umat sekaligus relevan menghadapi perubahan global,”ujar Gus Lilur, Kamis (18/6/2026).
Dalam rancangan formasi struktural yang diusulkan oleh NBI, posisi jajaran Syuriyah atau Rais Aam PBNU ditempati oleh Prof. Dr. KHR. Said Aqil Siradj. Ia diusulkan bakal didampingi oleh KH Afifuddin Muhajir dan KH Marzuki Mustamar pada posisi Wakil Rais Aam, serta KH Abdus Salam Shohib yang diplot mengemban amanah sebagai Katib Aam.
Sementara untuk jajaran eksekutif atau Tanfidziyah, NBI mengusulkan nama Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, sebagai Ketua Umum PBNU. Dalam menjalankan roda organisasi, ia diusulkan didampingi oleh dua sosok tangguh, Nusron Wahid dan Alissa Wahid, sebagai Wakil Ketua Umum. Adapun pos posisi Sekretaris Jenderal diusulkan dijabat oleh KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta posisi Bendahara Umum dipercayakan kepada pengasuh pondok pesantren, KH Imam Jazuli.
Gus Lilur menggarisbawahi bahwa penyusunan nama-nama tokoh tersebut sama sekali tidak didasarkan pada aspek popularitas semata, melainkan mengacu pada rekam jejak (track record), kedalaman sanad keilmuan, pengalaman manajerial organisasi, serta ketajaman membaca arah masa depan.
Apalagi, tantangan internal dan eksternal yang dihadapi warga nahdliyin saat ini sudah bergeser jauh dibandingkan satu dekade lalu. NU kini dihadapkan pada arus disrupsi digital, transformasi ekonomi berbasis syariah, perubahan pola komunikasi generasi muda, hingga benturan geopolitik dunia yang kian dinamis.
“NU tidak cukup hanya menjaga tradisi. NU juga harus mampu memimpin transformasi. Karena itu, kami mengusulkan kepemimpinan yang memadukan kearifan ulama dengan perspektif intelektual yang adaptif terhadap perkembangan zaman,”Pungkasnya.
Bagi NBI, Muktamar NU ke-35 bukan sekadar ajang rutin pergantian tampuk kekuasaan, melainkan momentum menentukan peta jalan (*roadmap*) jam’iyah dalam lima tahun ke depan. Gus Lilur menegaskan usulan ini murni sebagai kontribusi pemikiran akademis dari NBI, di mana keputusan akhir kepengurusan tetap mutlak berada di tangan para pemilik suara sah dalam forum muktamar sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.






