Indonesia Masuk 5 Besar Dunia Pengguna AI, Bukan Prestasi tapi Ancaman

JAKARTA – Indonesia masuk dalam daftar lima besar negara dengan penggunaan ChatGPT tertinggi untuk pembelajaran, berdasarkan data terbaru yang dirilis OpenAI. Capaian ini tidak serta-merta dapat dibanggakan bahkan berpotensi menjadi ancaman, jika tidak diiringi dengan penguatan kualitas literasi dan kemampuan berpikir kritis generasi muda.

“Saya kira ini bukan semata prestasi bagi anak bangsa. AI di satu sisi memang membantu, tetapi di sisi lain, ketergantungan terhadap AI justru berbahaya. Tingkat literasi, inovasi, dan kreativitas bisa tergerus jika penggunaannya tidak dikendalikan dengan bijak,” ujar Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly (Amure) di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Dia menilai fenomena ini menjadi peringatan serius bahwa transformasi digital di sektor pendidikan harus diiringi dengan kesiapan mental, metodologi belajar yang kuat, serta penguatan karakter peserta didik. Ia juga mengkritik belum optimalnya kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi dampak masif penggunaan AI di ruang belajar.

“Pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus besar ini. Harus ada langkah mitigasi yang serius dan terukur. Jangan sampai teknologi justru membuat generasi kita kehilangan daya juang intelektual,” tegasnya.

Sebagai langkah konstruktif, dia mendorong pemerintah untuk memperkuat kampanye literasi digital yang menekankan penggunaan AI secara bijak serta menegaskan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir

Pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga mendorong integrasi etika penggunaan AI dalam kurikulum pendidikan, serta metode pembelajaran yang tetap mengutamakan kreativitas dan analisis mandiri.

“Publik harus diberi pemahaman bahwa AI itu alat bantu, bukan alat utama dalam inovasi dan kreasi. Kalau ini tidak ditegaskan, kita berisiko menciptakan generasi yang serba instan, tapi minim kedalaman berpikir,” tambahnya.

Terakhir, dia menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pembangunan kapasitas manusia. “AI harus kita kuasai, bukan kita yang dikuasai. Kuncinya ada pada literasi, pengawasan, dan keberanian untuk tetap menempatkan manusia sebagai pusat inovasi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *