Menara Bahrul Ulum Menjadi Saksi Bisu Sejarah dan Simbol Persatuan di Muktamar ke-35 NU

Menara Bahrul Ulum Menyigi Saksi Bisu Sejarah dan Simbol Persatuan di Muktamar ke-35 NU
Menara Bahrul Ulum Menyigi Saksi Bisu Sejarah dan Simbol Persatuan di Muktamar ke-35 NU

Kabarjatim.com, JOMBANG : Di jantung kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, sebuah menara tua berdiri tegak menembus langit. Usianya telah melewati banyak babak penting sejarah bangsa, jauh sebelum Indonesia mengikrarkan kemerdekaannya. Kini, menjelang datangnya hajat besar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), bangunan bersejarah itu bersolek, memancarkan kembali pesona masa lalunya sebagai lambang keteguhan dan persatuan umat.

Bagi warga Nahdliyin, menara ini bukan sekadar tumpukan batu dan semen tua. Ia adalah saksi bisu perjuangan para ulama dan santri dalam merawat bangsa. Bentuk bangunannya yang melingkar menyimpan filosofi mendalam tentang kebersamaan yang tak lekang oleh zaman.

Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh, menuturkan bahwa menara tersebut merupakan salah satu peninggalan tertua di pesantren yang keaslian strukturnya dijaga ketat hingga hari ini. Bagi pria yang akrab disapa Gus Rozaq itu, arsitektur melingkar menara mengandung pesan moral yang kuat bagi siapa saja yang memandangnya.

“Menara ini dibangun pada masa sebelum Indonesia merdeka. Bentuknya yang melingkar menggambarkan persatuan, bahwa dalam kondisi apa pun kita harus tetap bahu-membahu menghadapi berbagai tantangan,” ujar Gus Rozaq.

Tidak hanya itu, tinggi menara yang menjulang juga dimaknai sebagai gelora semangat juang para pendahulu dalam melawan penjajahan. Filosofi inilah yang ingin dihadirkan kembali di tengah-tengah ribuan kader NU yang akan tumpah ruah di Jombang selama perhelatan akbar lima tahunan tersebut.

Karena statusnya yang kini didaulat sebagai ikon resmi Muktamar ke-35 NU, menara tersebut untuk pertama kalinya mendapatkan sentuhan pembaruan visual. Pengecatan ulang dilakukan dengan memadukan warna putih bersih dan aksen emas agar selaras dengan identitas visual muktamar. Uniknya, pembaruan ini sama sekali tidak menyentuh struktur aslinya demi menjaga keotentikan sejarah.

“Bangunan ini sebenarnya tidak pernah direnovasi. Kali ini hanya dipercantik dengan pengecatan ulang agar selaras dengan tema dan logo Muktamar,” tambahnya.

Denyut Persiapan di Tanah Tambakberas

Menyambut kedatangan para kiai, ulama, dan utusan dari berbagai penjuru negeri, denyut kesibukan kini terasa di setiap sudut Tambakberas. Persiapan fisik *venue* dikebut dengan target rampung pada akhir Juli ini, sebelum tim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turun langsung melakukan peninjauan akhir.

Berbagai pembenahan infrastruktur penunjang digarap serius, mulai dari pengurukan lahan yang dipersiapkan untuk area bazar dan kantong parkir, hingga penambahan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) demi kenyamanan para tamu Allah dan bangsa tersebut.

Di sisi lain, rekayasa lalu lintas juga disiapkan secara matang. Guna menghindari kemacetan parah di kawasan pesantren, mobilitas kendaraan umum akan dibatasi. Para peserta nantinya akan turun di area jalan utama dan melanjutkan perjalanan ke pusat acara menggunakan *golf car* yang disiapkan oleh panitia.

Hanya kendaraan keluarga pengasuh pesantren serta tamu VVIP yang diizinkan masuk ke area inti setelah melalui pemeriksaan ketat. Kendati demikian, panitia memastikan denyut kehidupan warga sekitar tidak boleh lumpuh akibat acara besar ini.

“Warga Insyaallah tetap aktif seperti biasa. Mungkin warga di sekitar yang kerja di luar tetap bisa berakses untuk melakukan aktivitas seharian. Pokoknya jangan sampai Muktamar ini merugikan warga sekitar,” tegas Gus Rozaq.

Kolaborasi Mempercantik Kota Santri

Persiapan menyongsong Muktamar ke-35 NU ini juga tidak lepas dari dukungan sigap Pemerintah Kabupaten Jombang. Penataan infrastruktur publik di sekitar kawasan pesantren—seperti perbaikan jalan raya yang rusak, normalisasi saluran sungai, hingga peremajaan lampu penerangan jalan—dikebut agar wajah kota santri semakin ramah dan terang benderang.

Melalui polesan estetika pada menara bersejarah dan kesiapan infrastruktur yang matang, Tambakberas siap menyambut lembaran sejarah baru. Dari menara tua yang berdiri kokoh di Jombang ini, pesan persatuan Nahdliyin kembali digaungkan ke seluruh penjuru Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *