Semai Harapan dari Sumbernongko: Kala Biji Kangkung Menghidupi Ratusan Petani

Kabarjatim.com, JOMBANG: Di saat petani lain bergegas memanen kangkung dan bayam selagi hijau dan segar untuk meja makan, para petani di Desa Sumbernongko, Kecamatan Ngusikan, Jombang, justru melakukan hal sebaliknya. Mereka membiarkan hamparan hijau di sawah itu menua, mengering, hingga batangnya meranggas di bawah terik matahari.

Bagi mereka, nilai tertinggi dari tanaman ini bukan terletak pada daunnya yang renyah, melainkan pada benih-benih kecil yang tersembunyi di balik kelopak yang telah mengering. Di tangan warga Sumbernongko, kangkung dan bayam adalah investasi masa depan dalam bentuk biji benih unggul.

Estafet Semangat di Tangan Pemuda

Salah satu penggerak di balik ekosistem unik ini adalah Dony Kristanto. Pria berusia 31 tahun ini bukanlah sosok yang asing dengan aroma tanah sawah. Sepuluh tahun terakhir, ia setia menakhodai bisnis pengepulan biji sayur yang diwariskan dari orang tuanya.

Dony mewakili wajah baru regenerasi petani. Dengan semangat muda, ia tidak hanya sekadar berjualan, tapi membangun jejaring. Kini, ia merangkul sekitar 200 petani mitra yang tersebar mulai dari Jombang, Mojokerto, hingga pesisir Lamongan dan Gresik.

“Ini sebenarnya meneruskan usaha bapak. Tapi ya harus terus dikembangkan. Apalagi saya baru dua tahun menikah, jadi harus lebih semangat lagi memutar roda usahanya,” kenang Dony sembari tersenyum.

Dalam satu musim tanam yang memakan waktu sekitar enam bulan, jika alam bersahabat, dari gudangnya lahir sekitar 200 ton biji sayur. Benih-benih inilah yang kemudian berkelana memenuhi kebutuhan lahan pertanian di Kediri, Jember, hingga menjangkau pelosok Indonesia Timur.

Tantangan di Balik “Emas Hijau”

Namun, mengelola ratusan ton hasil bumi bukanlah perkara mudah. Di balik hamparan sawah yang tenang, ada denyut perputaran uang yang harus terus dijaga. Sebagai pengepul sekaligus pembina, Dony sering kali dihadapkan pada dilema likuiditas. Petani membutuhkan pembayaran cepat sesaat setelah panen untuk menyambung hidup, sementara pembayaran dari pasar seringkali tidak datang seketika.

Di sinilah peran kemitraan strategis menjadi krusial. Melalui program Klasterkuhidupku dari BRI, Dony menemukan “napas tambahan” bagi usahanya. Skema pembiayaan yang ditawarkan pun terasa sangat “membumi” dan mengerti karakter pertanian.

“BRI memberikan fasilitas pinjaman dengan sistem musiman. Jadi, kami tidak pusing memikirkan cicilan setiap bulan yang kaku. Bayarnya nanti sekalian setelah musim panen selesai. Ini sangat meringankan perputaran modal kami,” jelasnya.
Sistem yang adaptif ini memungkinkan Dony fokus pada satu hal: memastikan para petani mitranya tetap sejahtera dan produksi benih tetap berjalan tanpa tercekik urusan permodalan.

Kolaborasi Membangun Ekosistem

Dukungan terhadap usaha mikro seperti milik Dony merupakan bagian dari langkah besar untuk memperkuat ekonomi daerah. Boedhi Winaryo, Branch Manager BRI Jombang, melihat kisah dari Sumbernongko ini sebagai bukti nyata bagaimana pemberdayaan klaster usaha dapat mendorong pelaku UMKM untuk “naik kelas”.

Menurut Boedhi, hingga saat ini sudah ada 135 klaster usaha di Jombang yang mencakup berbagai sektor, mulai dari perikanan hingga industri pengolahan. Program ini bukan sekadar tentang pinjaman modal, melainkan membangun ekosistem kolaboratif agar pelaku usaha lokal memiliki daya saing yang lebih kuat.
Apa yang terjadi di Desa Sumbernongko adalah potret kecil dari harapan besar swasembada pangan. Melalui ketekunan pemuda seperti Dony dan dukungan sistem keuangan yang inklusif, sebiji kangkung tidak hanya tumbuh menjadi sayur di piring makan, tapi menjadi motor penggerak ekonomi bagi ratusan keluarga petani di Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *