Kabarjatim.com, MOJOKERTO: Senimar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (SNP2M) 2026 Universitas Islam Majapahit (UNIM) diikuti 157 peserta dari berbagai perguruan tinggi. Forum yang mengusung tema “27 Tahun UNIM Berkarya, Sinergi Perguruan Tinggi dan Masyarakat” itu mengangkat isu pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pengembangan akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan digelar secara hibrida di Auditorium Graha Nusantara lantai 1 dan melalui Zoom Meeting. Dari total peserta, sebanyak 53 orang mengikuti kegiatan secara luring, sementara 104 peserta lainnya mengikuti secara daring.
Peserta seminar antara lain berasal dari Universitas Brawijaya, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Islam Malang, serta Universitas Islam Majapahit.
Dalam sambutannya, Pembina Yayasan Bakrie Adnan Zain, Dr. Rachman Sidharta Arisandi, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa perkembangan AI tidak semestinya hanya dipandang sebagai kemajuan teknologi. Menurutnya, pemanfaatan AI harus tetap berada dalam kerangka nilai, etika, dan tanggung jawab manusia.
“AI gives us capability. Pancacita gives us direction,” ujarnya, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, AI memberikan kemampuan, kecepatan, dan efisiensi dalam berbagai aktivitas, termasuk penelitian dan pekerjaan akademik. Namun, Pancacita Sivitas Akademika UNIM diperlukan sebagai orientasi agar perkembangan teknologi tetap digunakan secara bertanggung jawab.
“Berpemikiran akademik mendorong sivitas akademika untuk tetap kritis terhadap informasi yang dihasilkan AI. Berkecakapan profesional menempatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan kompetensi tanpa menghilangkan tanggung jawab manusia. Berkesadaran religius diperlukan sebagai batas etik dalam penggunaan teknologi. Bertanggung jawab ekologis mengingatkan kita terhadap dampak perkembangan teknologi terhadap lingkungan, sedangkan berkearifan kultural memastikan teknologi global tetap berjalan selaras dengan identitas dan nilai lokal,” jelasnya.
“Technology can be intelligent, but wisdom must remain human,” tegasnya.
Ia menambahkan, hubungan antara AI dan Pancacita tidak harus ditempatkan sebagai pertentangan antara manusia dan mesin. Sebaliknya, keduanya dapat diintegrasikan secara kritis, dengan teknologi memperbesar kemampuan manusia, sementara nilai-nilai Pancacita menjaga arah pemanfaatannya.
“Dalam konteks penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, AI tidak seharusnya hanya dimanfaatkan untuk mempercepat proses kerja akademik. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana AI membuat penelitian lebih cepat, tetapi bagaimana AI membuat penelitian lebih bermakna bagi masyarakat,” katanya.
Masih menurut lelaki yang akrab disapa Cak Sandi itu, tantangan perguruan tinggi di era AI bukan bagaimana manusia mengalahkan mesin, melainkan bagaimana manusia tetap berpemikiran akademik, berkecakapan profesional, berkesadaran religius, bertanggung jawab ekologis, dan berkearifan kultural ketika hidup berdampingan dengan teknologi.
“Semangat ini menjadi bagian dari refleksi 27 tahun UNIM berkarya, sekaligus memperkuat sinergi perguruan tinggi dan masyarakat melalui penelitian serta pengabdian yang relevan dengan kebutuhan zaman,” pungkasnya.
Seminar nasional tersebut menghadirkan enam pembicara dari berbagai latar belakang akademik, pemerintahan, dan dunia usaha. Mereka yakni Dr. Irham, Ph.D. dari Universiti Sains Malaysia; Dr. Ismail Marzuki, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong; Maulia Jayanti Islami, S.Kom., M.T. dari BPLSDM Komdigi Surabaya, Jawa Timur; Afifah Thulandari, S.T., M.T., CEO CV Mahawirya Laksita; Ir. M. Muslimin, S.T., M.T., ASEAN Eng.; serta Achmad Rijanto, S.T., M.T.
Kehadiran para pembicara tersebut menjadi bagian dari upaya UNIM mempertemukan perspektif akademik, teknologi, pemerintahan, dan dunia industri dalam membahas penelitian serta pengabdian kepada masyarakat di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.






