Nur Laily Raih Gelar Duta Kesehatan Masyarakat Jawa Timur 2026

JEMBER – Mahasiswi D3 Keperawatan Universitas Jember (UNEJ) Kampus Kota Pasuruan, Nur Laily Rokhmah, terpilih sebagai Duta Kesehatan Masyarakat Jawa Timur 2026. Dia berhasil mengungguli 90 peserta dari berbagai wilayah lain.

Nur Laily berharap capaiannya ini dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. “Saya ingin menjadi bagian dari generasi muda yang tidak hanya paham kesehatan. Namun juga mampu menyampaikan edukasi kesehatan dengan cara yang mudah dipahami masyarakat,” jelasnya saat kembali ke Kampus Pasuruan usai mengikuti Grand Final Duta Kesehatan Jawa Timur 2026 pada 1 Februari 2026.

Ajang ini diselenggarakan oleh Ikatan Duta Kesehatan Jawa Timur. Rangkaian acara pemilihan berlangsung dari Januari hingga Februari 2026 ini diikuti oleh 90 peserta dari berbagai kalangan usia 18-27 tahun yang berdomisili/menetap di Jawa Timur.

Lolos dalam seleksi administrasi, membawa 19 peserta mengikuti tahap karantina termasuk Nur Laily Rokhmah. Selama itu, terdapat beberapa tes yang diuji oleh dewan juri untuk mengetahui kemampuan para peserta, seperti opening speech dan isu challenge.

Untuk opening speech dan isu challenge, Nur Laily mengangkat tentang program Kerja Sehat Dekat. Program ini berisi cara penyampaian kesehatan kepada masyarakat secara lebih dekat dan sosial. Dalam pendekatan ini melibatkan keluarga dan tokoh masyarakat setempat, sehingga penyampaiannya tidak bersifat menggurui, namun bersifat sosial.

“Selain itu, bakat yang saya tampilkan secara online berupa video beberapa cuplikan pidato dan Master of Ceremony (MC) yang pernah saya ikuti,” tuturnya.

Sebelum karantina berlangsung, ia sempat berpikir para peserta yang turut berkolaborasi berasal dari rumpun kesehatan. Faktanya, berbagai peserta tersebut berasal dari berbagai jurusan dan memiliki wawasan yang lebih luas. Namun, kenyataan ini tidak menggoyahkan tekadnya, justru ia menjadi lebih semangat dari sebelumnya.

Namun tak dipungkiri, selama mengikuti ajang ini, rasa insecure pernah singgah. Pasalnya, ia merasa bahwa pengalaman yang dimiliki tidak sebanyak peserta lain, sehingga rasa ragu dan overthinking muncul. Terutama pada saat masa penilaian.

“Ada momen ketika saya ragu dan mulai mempertanyakan kemampuan diri. Selain itu, kendala seperti rasa cemas, tekanan dan overthinking sempat muncul. Terutama saat menghadapi penilaian dan ekspektasi. Namun, saya memilih untuk tidak berhenti. Keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah walaupun takut,” ucapnya.

Tak hanya itu, harapannya dengan amanah baru yang diemban, dapat lebih intens dalam mengawasi kesehatan. Sebab, berbagai fakta problematika kesehatan kerap terjadi di tengah kehidupan masyarakat. “Saya ingin menggunakan peran ini sebagai jembatan untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan diri, keluarga dan lingkungan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *