SIDOARJO – Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) Singogalih menggunakan staples (stapler) dalam distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini bertentangan Standar Keamanan Pangan (HACCP) yakni Penggunaan benda logam kecil seperti staples, penjepit kertas, atau jarum pentul di area pengemasan harus diminimalisir atau dihilangkan.
Dari informasi yang dihimpun dilokasi, Dalam distribusi Hari kedua MBG yang dilaksanakan oleh SPPG Singogalih Kemarin, Kemasan MBG dikemas dalam mika plastik dan di Stapler kemasananya. Sedangkan dalam Rekomendasi untuk Pelaksana MBG pengemasan beralih dari staples ke stiker segel. Selain lebih aman, stiker juga bisa digunakan sebagai media informasi kandungan gizi atau waktu layak konsumsi (jam expired).
“Penggunaan stapler bahaya jika pada anak-anak, takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,”Ujar salah satu wali murid yang meminta namanya untuk tidak dipublikasikan.
Hal senada juga diungkapkan, Wali murid lain, seharusnya pihak SPPG lebih memperhatikan dalam pola pendistribusian, tidak hanya asal-asalan. “Program ini adalah program pemerintah, tentu ada petunjuk teknis atau petunjuk pelaksanaannya, sehingga menjadi acuan dalam distribusinya,”Tandasnya.
Sebelumnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan menjadi solusi nutrisi bagi siswa, justru menuai kritik tajam di Kecamatan Tarik, Sidoarjo. Para orang tua murid di SPPG Singogalih meluapkan kekecewaannya setelah mendapati paket makanan yang dibagikan pada hari kedua pelaksanaan dinilai jauh dari standar gizi seimbang dan lebih menyerupai kudapan ringan.
Berdasarkan Informasi yang dihimpun, paket yang diterima oleh para siswa tersebut hanya berisi satu kotak susu ukuran kecil, tiga butir buah anggur, kentang kering, serta tiga biji tahu walik. Komposisi ini dianggap tidak memenuhi takaran gizi untuk kategori makanan utama bagi anak sekolah.






