Lawan Tsunami Digital, Ansor Jatim Gelar Majelis Lailatul Isnād

SURABAYA — GP Ansor Jawa Timur menggelar Majelis Lailatul Isnād untuk melestarikan tradisi keilmuan para ulama, sekaligus melawan derasnya arus informasi digital. Kegiatan yang berlangsung di Graha Ansor Jawa Timur, pada Senin (16/2/2026) malam ini juga bagian dari strategi memperkokoh pondasi intelektual dan spiritual kader berbasis sanad.

Dengan sanad yang terjaga, setiap langkah dakwah dan pengabdian tetap berada dalam koridor moderasi, berakar kuat pada tradisi, dan tersambung secara sahih kepada mata air keilmuan Islam. “Kader Ansor harus tampil sebagai penjaga tradisi sekaligus penggerak peradaban, aktif di ruang sosial, namun tetap berpijak pada otoritas keilmuan yang sahih,” ujar Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, dalam sambutannya.

Hadir dan menyimak dengan penuh kekhususkan ratusan kader dan santri, mengikuti rangkaian acara mulai bakda isya hingga tengah malam. Dalam forum ilmiah tersebut, para peserta juga mengikuti pembacaan sekaligus menerima ijazah 40 Hadits Musalsal, mata rantai transmisi ilmu yang tersambung secara otentik hingga kepada Rasulullah.

Dalam kesempatan ini majelis menghadirkan Al-Musnid KH. Aly Mas’adi, yang dikenal sebagai katib ulama besar asal Padang, Syekh Yasin al-Fadani. Dalam tausiyahnya, KH. Aly Mas’adi menyampaikan ijazah ‘āmmah melalui dua hadis utama, yakni Hadis Musalsal bil Awwaliyah yang menekankan nilai kasih sayang, serta Hadis Musalsal bil Mahabbah tentang cinta.

Ia menegaskan bahwa inti risalah kenabian adalah rahmah. Karena itu, siapa pun yang menapaki jalan ilmu harus terlebih dahulu menanamkan kasih sayang dalam dirinya sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Ia juga menyinggung kisah sahabat Mu‘adz bin Jabal yang menerima ungkapan cinta langsung dari Rasulullah sebagai bagian dari pendidikan ruhani yang mendalam.

Di tempat yang sama, Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM PW GP Ansor Jatim, Dr. Abdulloh Hamid, menekankan urgensi sanad di tengah derasnya arus informasi digital. Ia menyebut bahwa sanad bukan hanya rangkaian nama ulama, melainkan sistem penjagaan metodologi, etika, dan otentisitas ilmu. Dengan sanad, ilmu tidak tercerabut dari akarnya dan tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun moral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *