Di China, sebuah video yang memperlihatkan proses ekstraksi emas dari kartu SIM bekas oleh seorang pria bernama Qiao, asal Huizhou, Provinsi Guangdong, menjadi viral dan memicu lonjakan penjualan kartu SIM bekas di platform daring.
Qiao, yang berprofesi sebagai pemurni logam mulia dari limbah elektronik, mengunggah video tersebut pada 20 Januari. Dalam waktu singkat, video itu ditonton lebih dari lima juta kali.
Dalam rekaman tersebut, Qiao tampak menuangkan kartu SIM bekas ke dalam tong berisi bahan kimia. Melalui serangkaian proses kimia—mulai dari korosi, reaksi substitusi, hingga pemanasan—ia berhasil mengekstraksi lumpur emas. Setelah disaring dan dipanaskan, emas yang dihasilkan mencapai 191 gram, dengan nilai sekitar US$29.000.
Jika dikonversikan dengan harga emas hari ini, Selasa (3/2), yang mencapai sekitar Rp3.330.000 per gram, nilai emas tersebut setara dengan Rp636 juta.
Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), kepada Xiaoxiang Morning Post, Qiao menjelaskan bahwa emas tersebut tidak sepenuhnya berasal dari kartu SIM, melainkan dari campuran hampir dua ton limbah chip elektronik dari industri telekomunikasi.
“Bagian-bagian penting kartu SIM dilapisi emas untuk menjaga stabilitas dan ketahanan terhadap korosi,” ujarnya.
Media China melaporkan bahwa satu kartu SIM standar umumnya hanya mengandung kurang dari 0,001 gram emas. Selain kartu SIM, limbah lain seperti chip kartu bank dan komponen kontak perangkat komunikasi juga diketahui mengandung emas dan dapat didaur ulang.
Video tersebut sontak memicu reaksi warganet. Sejumlah pengguna media sosial mengaku menyesal telah membuang limbah chip elektronik di masa lalu tanpa menyadari nilai ekonominya. Dampaknya juga terasa di pasar barang bekas. Sejumlah penjual di platform daring menawarkan paket kartu SIM bekas yang diklaim dapat digunakan untuk proses ekstraksi emas. Toko lain bahkan menjual peralatan dan video panduan pemurnian emas, dengan penjualan hampir 2.000 paket.
Meski demikian, Qiao menegaskan bahwa ia tidak bermaksud mempromosikan praktik alkimia ilegal. “Saya melakukan pemurnian limbah elektronik secara legal dan memiliki sertifikasi. Tujuan saya hanya berbagi keahlian,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mencoba proses tersebut secara mandiri. Selain berisiko tinggi terhadap keselamatan, praktik tersebut juga berpotensi melanggar hukum.
Seorang pelaku industri yang dikutip media Xinwenfang menyebutkan bahwa metode ekstraksi emas yang umum digunakan adalah perendaman menggunakan aqua regia, campuran asam pekat yang sangat korosif. “Proses ini sangat sensitif terhadap pengaturan suhu, waktu, dan pH. Kesalahan kecil dapat memicu pelepasan gas beracun atau reaksi kimia berbahaya,” katanya.






