JOMBANG – Menjaga relevansi nilai dasar Nahdlatul Ulama (NU), Pesantren Tebuireng menggelar diskusi mendalam bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī”, Sabtu (14/2). Forum yang diinisiasi Tebuireng Institute ini menghadirkan puluhan akademisi dan tokoh penting NU di Aula Gedung KH Yusuf Hasyim.
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin), menekankan bahwa dokumen monumental karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari tersebut bukan sekadar arsip sejarah.
“NU lahir di tengah tekanan kolonialisme. Membaca kembali Al-Qānūn Al-Asāsī adalah cara kita menjaga pijakan nilai organisasi agar tetap relevan dengan tantangan zaman,” tegas Gus Kikin.
Diskusi ini diperkaya perspektif lintas disiplin, mulai dari kajian filologi oleh Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban hingga analisis sosiologis oleh Prof. Masdar Hilmy. Para pakar sepakat bahwa transformasi regulasi di tubuh NU harus tetap berpijak pada tradisi keilmuan pesantren dan semangat spiritual yang diwariskan para pendiri.
Tebuireng Gelar Diskusi Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī, Libatkan Puluhan Pakar NU
Sejumlah akademisi dan peneliti turut menjadi narasumber. Prof Abd A’la mengulas perkembangan Qānūn Asāsī dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia dan dinamika NU. H M Nasruddin Anshoriy memaparkan transformasi Qānūn Asāsī dari masa ke masa dalam perspektif sejarah organisasi.
Sementara itu, Dr Rijal Mumazziq menyoroti evolusi regulasi tersebut dalam merespons perubahan sosial-keagamaan. Prof Masdar Hilmy mengkaji dimensi etis dan sosiologis Qānūn Asāsī dalam relasi agama, negara, dan masyarakat.
Kajian filologis dipaparkan Dr Ahmad Ginanjar Sya’ban dengan menelusuri akar tekstual serta konstruksi awal Qānūn Asāsī. Adapun Prof Achmad Muhibin Zuhri menekankan pentingnya kesinambungan tradisi keilmuan pesantren dalam setiap transformasi regulasi organisasi. Perspektif praksis keorganisasian disampaikan H Nur Hidayat, terutama terkait implementasi nilai-nilai Qānūn Asāsī dalam kaderisasi.
Para pemapar membahas genealogi tekstual dan institusional Al-Qānūn Al-Asāsī sejak awal abad ke-20 hingga perkembangan kontemporer di tubuh NU. Diskusi juga mengangkat interpretasi ayat-ayat rujukan, peta jalan transformasi, serta keterkaitan antara dinamika organisasi dan tradisi spiritual pesantren.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Melalui forum ini, Tebuireng Institute berharap lahir rumusan pemikiran yang mampu menjembatani warisan historis Al-Qānūn Al-Asāsī dengan tantangan organisasi di era modern.






