JAKARTA – Kejadian Luar Biasa (KLB) campak tengah melanda Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Tercatat lebih dari 2 ribu kasus suspek dan 17 anak meninggal dunia. Ironis memang, di saat vaksin yang aman sudah tersedia, namun wabah masih melanda.
Belakangan terungkap fakta ada faktor lain yang memicu KLB campak di Sumenep, Madura. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh atau yang akrab disapa Ninik.
“Persoalan utama di Sumenep bukan sekadar kurangnya layanan vaksinasi, tapi adanya penolakan dari sebagian masyarakat terhadap vaksin, apapun jenisnya,” ujar Ninik dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Melihat fakta di lapangan, menurutnya, penanganan masalah ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan intervensi dari pemerintah daerah maupun Dinas Kesehatan setempat. Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa itu menegaskan bahwa pendekatan yang terlalu struktural atau formal cenderung tidak efektif dalam konteks budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi yang lebih halus dan berakar pada pendekatan sosial-kultural.
“Saya kira penanganannya harus lebih soft. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Harus melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan pemuka masyarakat di sana. Merekalah yang punya kedekatan emosional dengan warga dan bisa secara perlahan menyadarkan pentingnya vaksinasi,” tambahnya.
Ninik juga menekankan bahwa komunikasi yang tepat, inklusif, dan berbasis kepercayaan menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan cakupan vaksinasi di daerah-daerah dengan resistensi tinggi seperti Sumenep.
“Kita tidak bisa memaksakan. Tapi dengan pendekatan yang kolaboratif dan humanis, saya yakin masyarakat bisa lebih terbuka untuk menerima vaksin demi kesehatan bersama,” pungkasnya.
Ia menyatakan Komisi IX DPR RI akan terus memantau perkembangan penanganan KLB campak di berbagai daerah dan mendorong upaya-upaya lintas sektor agar penanggulangan dapat berjalan lebih efektif dan menyentuh akar persoalan di masyarakat.
Secara medis, campak bukan hanya soal demam dan ruam tapi juga salah satu penyakit paling menular di dunia. Satu anak sakit dapat menularkan ke belasan orang lain dalam ruang yang sama. Setelah masuk ke tubuh, virus campak tidak berhenti di kulit. Virus ini merusak sistem kekebalan, menciptakan fenomena immune amnesia. Kekebalan yang sudah dibentuk terhadap penyakit lain hilang, membuat anak sangat rentan terhadap pneumonia, diare berat, dan infeksi telinga. Komplikasi inilah yang paling sering berujung pada kematian.
Pada sebagian kasus, campak juga dapat memicu ensefalitis akut, peradangan otak yang menyebabkan kejang, koma, hingga kematian. Bertahun-tahun kemudian, sebagian anak juga dapat mengalami Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), penyakit otak progresif yang sering berakibat fatal.