JOMBANG – Kelompok usia balita menjadi sasaran paling rentan terhadap ancaman komplikasi berat akibat penyakit pneumonia di Kabupaten Jombang. Struktur saluran pernapasan anak yang masih kecil menyebabkan infeksi paru-paru ini lebih cepat berkembang dan menimbulkan kegawatan serius dibandingkan pasien dewasa.
Direktur RSUD Jombang, Pudji Umbaran, menjelaskan bahwa pada anak-anak, pembengkakan kecil saja pada saluran napas dapat berdampak fatal terhadap fungsi pernapasan. Kondisi cuaca ekstrem dan intensitas hujan tinggi belakangan ini turut memperburuk imunitas tubuh balita, sehingga risiko infeksi virus, bakteri, maupun jamur meningkat drastis.
“Pada anak-anak, pembengkakan kecil saja bisa berdampak besar pada pernapasan, sehingga tingkat kegawatannya lebih tinggi,” ujarnya, Minggu, 29 Maret 2026.
Data rumah sakit menunjukkan tren fatalitas yang mengkhawatirkan, di mana sejak awal tahun hingga pertengahan Maret 2026 tercatat 38 pasien meninggal dunia dari total 176 warga yang dirawat. Sepanjang tahun 2025 sendiri, tercatat sebanyak 1.279 pasien menjalani perawatan akibat infeksi paru-paru ini dengan angka kematian mencapai 138 orang.
Guna mengantisipasi kegawatan pada pasien kecil, RSUD Jombang telah menyiagakan fasilitas medis khusus di ruang ICU anak. Sebanyak enam unit ventilator khusus anak disiapkan untuk memberikan bantuan pernapasan darurat bagi balita yang mengalami gagal napas akibat komplikasi pneumonia.
“Tersedia enam unit ventilator khusus anak yang digunakan untuk membantu pernapasan pada kasus berat,” tambahnya.
Masyarakat, khususnya orang tua, diimbau untuk segera membawa balita ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala awal seperti batuk berdahak, demam tinggi, dan sesak napas. Penanganan dini sangat krusial mengingat pneumonia pada balita sering kali melibatkan infeksi ganda yang dapat memperburuk kondisi kesehatan dalam waktu singkat.
“Cuaca yang tidak stabil bisa menurunkan imunitas tubuh, sehingga masyarakat lebih rentan terserang infeksi,” pungkasnya.






