Grebeg Apem Jombang: Simbol Pembersihan Diri dan Kegembiraan Sambut Ramadan

JOMBANG – Di balik keriuhan ribuan warga yang memadati Alun-alun Kabupaten Jombang, Kamis (12/2/2026), tersimpan sebuah tradisi turun-temurun yang sarat akan makna. Grebeg Apem 2026 bukan sekadar acara berebut penganan, melainkan sebuah ritual kultural “Megengan” yang menandai kesiapan batin masyarakat Jombang memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Secara filosofis, pemilihan kue apem dalam tradisi ini bukanlah tanpa alasan. Nama “Apem” diyakini berasal dari serapan kata bahasa Arab, Afwun, yang berarti ampunan. Tradisi ini menjadi simbolisasi permohonan maaf antar sesama warga agar dapat melangkah ke bulan Ramadan dengan hati yang bersih.

Kemeriahan tradisi dimulai dengan kirab budaya yang berangkat dari Kantor Pemkab Jombang. Arak-arakan gunungan apem yang dikawal oleh para siswa sekolah dasar dan pertunjukan tarian bernuansa Timur Tengah menggambarkan perpaduan harmonis antara budaya lokal Jawa dengan nilai-nilai religius Islam.

Kehadiran ribuan apem yang disusun dalam 17 tumpeng besar bukan hanya sebagai sajian, melainkan representasi dari kebersamaan. Angka ini mencerminkan gotong royong masyarakat dari berbagai kecamatan di Jombang yang menyatukan tekad menyambut bulan penuh berkah.

Bupati Jombang, Warsubi, dalam sambutannya menekankan bahwa Grebeg Apem adalah wujud syukur dan sukacita (tahadduts bin ni’mah) atas kembalinya bulan Ramadan.

“Tradisi ini menjadi wujud kebahagiaan bersama sekaligus momentum mempererat silaturahmi masyarakat Jombang. Megengan adalah pengingat bahwa secara lahir dan batin, kita harus siap mengendalikan hawa nafsu,” tutur Warsubi.

Mengutip esensi dari Surah Al-Baqarah ayat 183, Warsubi menjelaskan bahwa tradisi ini adalah pembuka jalan menuju ketakwaan. Dengan saling memaafkan melalui simbolis bagi-bagi apem, warga diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk.

Meski warga sempat saling berebut sebelum seremoni berakhir, hal tersebut justru dilihat sebagai bentuk antusiasme masyarakat dalam “ngalap berkah” atau mencari keberkahan dari tradisi ini. Sebanyak 15.752 apem yang ludes dalam sekejap menjadi saksi betapa kuatnya akar tradisi Megengan di hati masyarakat Jombang.

“Kita semua hari bahagia. Sebagai umat muslim yang beriman, kita wajib menyambut Ramadan dengan hati yang gembira,” pungkasnya.

Melalui Grebeg Apem, Jombang tidak hanya memamerkan kekayaan kuliner tradisionalnya, tetapi juga mempertegas identitasnya sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, pengampunan, dan persatuan dalam bingkai budaya nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *