JOMBANG : Matahari baru saja beranjak tinggi di Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito, Jombang. Namun, Senin pagi itu, suasana di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bustanul Ulum tidaklah seperti biasanya. Di balik pagar sekolah, ratusan pasang mata kecil mendadak membelalak. Riuh rendah bisikan berubah menjadi sorak-sorai yang memecah keheningan desa.
Bukan karena bunyi lonceng masuk, melainkan karena kemunculan sosok merah-biru yang bertengger gagah di atas mobil boks Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Spiderman telah tiba.
Namun, pahlawan super ini tidak sedang memburu musuh bebuyutan. Tangannya tidak mengeluarkan jaring untuk menangkap penjahat, melainkan mendekap nampan-nampan berisi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Ini adalah misi penyelamatan dalam bentuk yang berbeda: menyelamatkan masa depan melalui sepiring makanan sehat.
Sosok di balik kostum ketat itu adalah Ibnu Mustafa Salahuddin. Pemuda berusia 25 tahun ini biasanya hanya duduk di kursi kemudi sebagai driver pengantar makanan. Namun hari ini, ia memilih menjadi pelipur lara bagi anak-anak di 14 titik distribusi.
“Pastinya panas sekali di dalam sini,” ujar Ibnu, suaranya sedikit teredam di balik topeng Spiderman yang masih melekat erat. Keringat mungkin bercucuran di balik kain tersebut, namun senyumnya tak luntur melihat antusiasme anak-anak yang mengerubunginya.
Bagi Ibnu, ini bukan sekadar gimik. “Tujuannya supaya anak-anak senang dan mau makan dengan gembira. Kalau mereka senang, harapannya gizinya masuk dan otaknya makin cemerlang,” tambahnya. Meski sempat mengalami momen “mendebarkan” saat harus duduk di atas mobil boks dengan badannya yang besar, rasa lelah itu terbayar lunas oleh tarikan-tarikan kecil tangan mungil siswa yang penasaran dengan kostumnya.
Kehadiran sang pahlawan Marvel ini menciptakan gelombang emosi yang beragam di halaman madrasah. Arul Nur Rahman (8), siswa kelas 1, tampak melompat-lompat kecil kegirangan. “Senang sekali ketemu Spiderman. Tadi sempat tos!” serunya dengan mata berbinar.
Namun, tak semua berani. Di sudut lain, beberapa siswi tampak bersembunyi di balik kaki gurunya, menangis kecil karena takut melihat sosok bertopeng yang asing. Dengan sigap, para guru memeluk dan menenangkan mereka, menjelaskan bahwa sang superhero datang membawa hadiah berupa makan siang.
Kepala MI Bustanul Ulum, Bumunziyati, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat pemandangan tak terduga tersebut. “Saya kaget, tidak menyangka pengantarnya pakai baju Spiderman. Tapi melihat anak-anak sebahagia ini, saya ikut senang,” ungkapnya.
Menariknya, kehadiran Spiderman ternyata menjadi “bumbu” penyedap yang ampuh. Sebanyak 147 porsi makanan ludes dinikmati. Suasana ceria rupanya mendongkrak nafsu makan siswa. Bahkan, muncul pemandangan mengharukan: anak-anak mulai saling berbagi menu tanpa dipaksa. Nilai-nilai kebersamaan tumbuh di antara suapan nasi dan lauk bergizi.
Saat matahari mulai menyengat, Spiderman harus kembali ke markasnya—atau dalam hal ini, kembali ke kemudi mobil boksnya. Ia meninggalkan kenangan yang akan diceritakan anak-anak itu saat pulang ke rumah nanti.
Pagi itu di Sumobito, sekolah bukan sekadar tempat mengeja huruf atau berhitung angka. Melalui kreativitas sederhana seorang pengantar makanan, sekolah menjelma menjadi ruang imajinasi. Di sana, gizi tidak lagi terasa seperti kewajiban yang membosankan, melainkan sebuah kado istimewa yang diantar langsung dari dunia mimpi.
“Semoga datang lagi,” bisik Rachmat Gibran malu-malu, menatap mobil boks yang perlahan meninggalkan gerbang. Di matanya, dan di mata ratusan siswa lainnya, pahlawan sejati hari ini bukanlah mereka yang bisa terbang, melainkan mereka yang datang membawa kepedulian—dengan atau tanpa kostum pahlawan.





