Napak Tilas Jejak Peradaban di Tanah Jawa

Kabarjatim.com-Siapa yang tidak tahu dengan nama Sungai Bengawan Solo? Sebagai sungai terbesar di Pulau Jawa ini, Sungai Bengawan Solo menjadi pusat peradaban manusia sejak 10.000 tahun yang lalu. Seperti halnya peradaban di belahan bumi lainya yang tak jauh dari sungai.

Jika di Mesir ada Sungai Nil sebagai pusat peradapan kala mesir kuno, pun demikian di Pulau Jawa juga ada Sungai Bengawan Solo yang menjadi pusat peradaban masyarakat Jawa Kuno. Sungai menjadi poros kehidupan. Air tawar segar yang meluncur dari pegunungan membawa serta bahan sumber kehidupan yang dibutuhkan beragam makhluk hidup yang saling bertaut dalam ekosistem sungai. Sejak  zaman purba manusia memanfaatkan sumberdaya yang melimpah untuk menjamin kehidupan generasi mendatang.

Dalam 50 tahun terakhir  kehidupan alam liar rata-rata berkurang sebanyak 60 persen. Termasuk keberadaan air tawar. Untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia stabilitas alam tak dapat diremehkan lagi. Kekeringan banyak melanda di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Selan itu dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah spesises Sungai Bengawan Solo terancam punah. Diantaranya, Ikan Sili, Ikan Areng-areng, Ikan Lempuk, Udang Watang supit biru, juga jarang ditemukan.

Tofan Ardi, Aktivis Lingkungan Hidup dan salah salah satu penggagas Misi Ekspedisi Bengawan Solo (MEBS) 2022 menyebut, upaya pelestarian yang berkesinambungan diperlukan agar Sungai Bengawan Solo ini, tetap abadi. “Sebenarnya tanggung jawab pemeliharaan sungai menjadi tugas bersama setiap simpul masyarakat yang berada di sepanjang bantaran bengawan solo. Namun yang terjadi, mereka sejauh ini masih fokus pada bagian yang berada tepat di depan hidung, masyarakat di hulu tidak mau tahu lebih jauh urusan masyarakat yang ada di hilir dan yang di hilir lupa jika berkah air yang mereka nikmati berasal dari hulu”, kata Tofan yang juga pendiri Yayasan Putra Nusantara, kepada Kabarjatim.

Baca Juga  Ini Adalah Rangkaian Kegiatan Tim MEBS 2022

Tofan mengatakan, ekspedisi ini diharapkan mampu memantik lahirnya River Side Society yang bertujuan pemanfaatkan potensi bengawan solo secara berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan media.

Dengan demikian, air yang melimpah dan ekologi sungai bengawan solo bisa terjaga mampu menyokong aktivitas ekonomi masyarakat mulai dengan sektor pertanian, perikanan dan pariwisata. Eksepedisi Sungai Bengawan Solo ini, lanjut Tofan, adalah upaya konkrit terhadap isu pemanasan global dan perubahan iklim memicu ketidakseimbangan alam yang kemudian menyebabkan terjadinya berbagai bencana dan musibah seperti banjir, abrasi, serta menurunnya kualitas air baku, bahkan kekeringan.