Tuntutan Belum Dikabulkan, Guru GTT di Jember Mogok Kerja

oleh -

JEMBER – Puluhan guru tidak tetap (GTT) dan PTT se-Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, mulai Selasa 6 Oktober 2018, melakukan aksi mogok kerja selama tiga hari menyusul tidak adanya kejelasan dari pemerintah terkait nasib mereka.

Akibat aksi yang dilakukan 56 orang GTT/PTT tersebut, ratusan siswa SD dari 16 sekolah dasar di Pakusari terlantar. Hingga jam pulang sekolah tiba, sama sekali tidak ada kegiatan belajar mengajar. Para guru mereka memilih berkumpul di Bekas Kantor UPT Pendidikan Kecamatan Pakusari sembari memasang banner bertuliskan 8 tuntutan kepada pemerintah.

Yaitu penghapusan syarat umur untuk seleksi CPNS tanpa syarat dan masa ijazah; Menjadi PNS hanya seleksi berkas, karena sudah siap jadi guru; Atlet bisa jadi PNS tanpa tes, kenapa kami tidak; Cabut SP dan terbitkan SK; Penuhi rasa keadilan tanpa bedakan masa kerja ijazah dan usia; Libatkan seluruh stakeholder pendidikan, untuk penerbitan SK bupati; Penataan SK menjadi wewenang Dispendik; dan Honor GTT/PTT dianggarkan dalam APBD setiap tahun, dengan patokan UMK.

Salah seorang GTT yang ikut dalam aksi mogok kerja, Ali Jamil menyampaikan, aksi mogok kerja itu dilakukan karena tuntutan dari GTT/PTT tidak dikabulkan.

“Kita menuntut pemerintah, terkait syarat perekrutan CPNS agar tidak ada diskriminasi. Untuk batasan umur agar dihapuskan. Karena kasihan teman-teman yang sudah berumur. Kemudian kepada pemerintah daerah, kita menuntut SP (surat penugasan), untuk berubah menjadi SK,” ulasnya.

Menurut Ali, dengan hanya dalam bentuk SP, maka tidak ada perubahan, dan tetap kondisinya. “Aksi tersebut sebagai langkah konkret, agar pemerintah tahu sejauh mana pentingnya GTT ini,” tegasnya.

Aksi tersebut, kata dia, sudah dikomunikasikan dengan pengurus PGRI Jember. “Sesuai instruksi dari PGRI, jika tidak ada perhatian, maka akan melakukan aksi yang lebih besar lagi,” ungkapnya.

Editor: Ahmad Saefullah