Ternyata, TPG Terhutang di Kemenag Sumenep Capai 17 Milyar

oleh -
Foto : Kantor Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Sumenep (Musyfiq/Kabarjatim)
Foto : Kantor Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Sumenep (Musyfiq/Kabarjatim)

SUMENEP-Kabar terkaiat adanya tunjangan profesi guru (TPG) 2018 hangus, ditepis pihak Kementerian Agama (Kemenag) Sumenep, Jawa Timur.

Namun, anggaran TPG yang belum cair alias terhutang yakni mencapai Rp17 milyar lebih. Anggaran tersebut untuk tunjangan ribuan guru selama bulan Oktober, Nopember dan Desember 2018.

“Kalau anggaran TPG selama 3 bulan itu capai 20 milyar. Cuma ada yang sudah terbayar satu bulan. Saat ini untuk Sumenep sendiri tersisa 17 milyar. Kalau untuk Jawa Timur, masih tersisa 300 milyar,” kata Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma), Moh. Tawil saat dikonfirmasi media ini, Jumat (1/2/2019).

Menurutnya, setiap guru mendapatkan tunjangan sebesar Rp1,5 juta perbulan. Sementara jumlah penerima di Kabupaten Sumenep lebih 3 ribu guru.

Tawil juga menyebut, salah satu faktor belum cairnya dana tersebut karena masih penghitungan ulang tunjangan guru ke sejumlah daerah. Itu sebagai upaya mengendalikan penyaluran transfer ke daerah, agar tidak terjadi pengendapan dana tunjangan guru yang terlalu besar di rekening kas daerah.

Namun, kata dia di RAPBN 2019 nanti belanja negara untuk sektor pendidikan akan berfokus juga pada peningkatan kualitas guru PNS dan non-PNS dengan menaikkan Tunjangan Profesi Guru.

“Jadi itu bukan hangus, hanya terhutang,” terangnya.

Kendati begitu, Tawil belum bisa memastikan kapan tunjangan itu bisa dicairkan pada penerima. “Kami tidak bisa memastikan, malah kami masih diminta data kembali, terlahir 2 Februari ini,” tandasnya.

Diketahui, sejumlah guru penerima TPG merasa resah akibat tunjangan tersebut tak kunjung cair. Awalnya, pihak Kemenag berjanji akan melakukan pencairan akhir Januari 2019, namun setelah ditunggu-tunggu tak juga membuahkan hasil. Bahkan tersiar kabar tunjangan tersebut hangus.

“Tunggu saja, pasti cair kok,” tandasnya.

Editor : Nurul Arifin