Tenaga Kesehatan Dididik Hadapi Pandemi Corona Melalui Kelas Online

oleh -
Foto Claudio Furlan - LaPresse 10 Marzo 2020 Brescia (Italia) News Tende e strutture di emergenza degli Spedali Civili di Brescia per l emergenza coronavirus Photo Claudio Furlan/Lapresse 10 March 2020 Brescia (Italy) Tents and emergency structures of the Civil Hospitals of Brescia for the coronavirus emergency

Jakarta – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) meluncurkan Kelas Online terkait penguatan surveilans, pencegahan dan pengendalian COVID-19 yang ditujukan bagi tenaga kesehatan di tingkat layanan kesehatan primer di seluruh Indonesia.

Kelas Online COVID-19 yang diselenggarakan sejak 30 Maret 2020 hingga 8 April 2020 dan akan terus dilanjutkan sesuai kebutuhan di lapangan dalam merespon COVID-19. Kelas online ini mendatangkan pemateri dari Direktorat Surveilans Kesehatan dan Karantina Kementerian Kesehatan RI, Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dan narasumber lainnya yang berasal dari berbagai lembaga bidang kesehatan. Hingga hari ini, terdapat lebih dari 5.000 tenaga kesehatan Indonesia yang mendaftarkan dirinya untuk mengikuti Kelas Online COVID-19.

Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kemunculan kasus positif COVID-19 di Indonesia pada awal Maret 2020, sistem kesehatan nasional ditopang oleh tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan status positif COVID-19, orang dalam pemantauan, serta kelompok berisiko tinggi.

Di satu sisi, pemerintah sudah menetapkan 132 rumah sakit rujukan untuk mengantisipasi perkembangan wabah COVID-19. Namun, di sisi lain, temuan kasus setiap harinya semakin tinggi dan meluas ke beberapa daerah di Indonesia.

Situasi ini membutuhkan kesiapan kapasitas dan keterampilan tenaga kesehatan yang kuat di segala lini layanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan primer, mengingat wabah COVID-19 merupakan penyakit baru. Hingga saat ini belum ditemukan vaksin dan obat untuk COVID-19.

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) merupakan layanan kesehatan terdekat ke masyarakat. Dalam situasi pandemi, sering kali masyarakat dengan gejala awal akan mendatangi FKTP terlebih dahulu. Untuk itu, FKTP memegang peranan sangat penting dalam upaya pencegahan, deteksi dini, pelacakan, penemuan, hingga pemantauan kasus.

Diah Saminarsih, Ketua Dewan Pembina CISDI, menekankan pentingnya peran masyarakat sipil dalam melengkapi dan memperkuat fungsi-fungsi sistem kesehatan nasional di masa darurat kesehatan.

Diah mengatakan, dalam kondisi darurat kesehatan saat ini, sistem kesehatan di seluruh dunia mengalami fase yang rapuh karena wabah ini muncul secara tidak terduga dan berpindah secara cepat melewati batas lintas negara. Di tingkat global, bukti-bukti ilmiah masih terus dikumpulkan dan diteliti agar intervensi kesehatan yang diberikan tepat sasaran.

Di saat seperti ini, whole of society approach atau keterlibatan lintas sektor menjadi kunci utama penguatan sistem kesehatan, khususnya di Indonesia. Hingga hari ini, kasus COVID-19 terus meningkat secara eksponensial.

“Dengan kondisi geografis Indonesia yang luas dan budaya kolektif masyarakat, masyarakat sipil perlu berkolaborasi dalam memastikan pilar sistem kesehatan nasional, yaitu tenaga kesehatan Indonesia, siap berada di garda terdepan layanan kesehatan di masa pandemi ini,” ujarnya.

Egi Abdul Wahid, Direktur Program CISDI, menyatakan bahwa tenaga kesehatan memiliki kebutuhan yang mendesak dalam mengakses informasi dan pengetahuan terkait pencegahan dan penanganan COVID-19.

“Saat ini, pemerintah kita responsif dalam mengeluarkan kebijakan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Namun, pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi hanya melalui peraturan maupun prosedur yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, Pemerintah masih terlalu terfokus pada layanan kesehatan sekunder, padahal puskesmas dan klinik juga memegang peranan sangat penting. Dengan pengalaman CISDI mengelola program Pencerah Nusantara yang memberikan peningkatan kapasitas bagi tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama di 16 kabupaten, CISDI menginisiasi Kelas Online Pencegahan dan Penanganan COVID-19 yang terbuka bagi seluruh tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Kami dengan bahagia mengabarkan bahwa animo yang ditunjukkan oleh tenaga kesehatan sangat tinggi.”

Sejak dimulainya pendaftaran pada tanggal 27 Maret 2020, CISDI menerima lebih dari 5.000 aplikasi dari tenaga kesehatan di berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan asesmen awal yang dikaji oleh CISDI, tenaga kesehatan menunjukkan minat dan kebutuhan yang sangat tinggi terkait pemahaman dasar COVID-19, deteksi dini COVID-19 pada fasilitas kesehatan tingkat pertama, respon surveilans: pemantauan dan telusur jejak, pelaporan dan rujukan, serta komunikasi risiko dan edukasi publik. Asesmen ini menjadi dasar pertimbangan perumusan modul pelatihan Kelas Online COVID-19.

“CISDI melibatkan lebih dari 20 relawan dalam merumuskan modul dan materi pelatihan, serta memastikan terlaksananya kegiatan tindak lanjut setelah Kelas Online. Setelah mengikuti Kelas Online COVID-19, seluruh tenaga kesehatan yang terlibat akan tergabung dalam sebuah grup WhatsApp didampingi oleh fasilitator untuk memastikan tindak lanjut dan pendampingan teknis tenaga kesehatan di lapangan,” tambah Egi.

Meskipun sudah diselenggarakan pada tanggal 30 Maret 2020 dan 1 April 2020, namun Kelas Online COVID-19 masih akan diselenggarakan pada tanggal 3 April, 6 April, dan 8 April 2020. Tidak berhenti sampai pada kelas kelima, CISDI membuka kesempatan bagi tenaga kesehatan, dinas kesehatan, serta komunitas kesehatan lainnya yang masih membutuhkan informasi dan pengetahuan terkait pencegahan dan penanganan COVID-19.

“Kami menyadari masih banyak gap kebutuhan tenaga kesehatan akan informasi yang harus segera dipenuhi dan tentunya kita tidak bisa terus-menerus berharap pada pemerintah. Masyarakat sipil pun memiliki peran dalam memenuhi kebutuhan ini. Dengan jejaring, pengalaman serta akses informasi dan pengetahuan yang CISDI miliki, kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di masa pandemi ini,” tutup Egi.