Surabaya Masih Berduka, Mendikbud Dukung Risma Liburkan Anak Sekolah

oleh -

SURABAYA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengusulkan kepada Pemerintah Kota Surabaya agar memperpanjang waktu belajar di rumah bagi siswa mengingat situasi keamanan di Kota Pahlawan pasca teror bom bunuh diri di sejumlah tempat.

“Tadi juga bicara dengan wali kota mengenai masalah hari libur sekolah. Saya usulkan supaya diperpanjang masa liburnya sampai keadaan tenang sehingga suasana belajar juga baik,” ujarnya melalui siaran pers yang dikirim Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel, GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuno pada Minggu 13 Mei 2018 mengakibatkan 14 orang tewas dan 43 lainnya luka-luka. Sementara ledakan bom di Rusunawa Wonocolo mengakibatkan tiga orang tewas.

Selanjutnya, kemarin pagi bom kembali meledak di pintu masuk Mapolrestabes Surabaya. Empat orang pelaku penyerangan tewas. Adapun korban luka 10 orang. Dari jumlah tersebut, empat orang korban berasal dari anggota Kepolisian Polrestabes Jatim dan enam warga sipil.

Melihat situasi keamanan yang kurang kondusif, Dinas Pendidikan Kota Surabaya akhirnya mengeluarkan pengumuman bahwa kegiatan belajar mengajar pada Senin, 14 Mei 2018, dilaksanakan di rumah bagi peserta didik jenjang PAUD hingga SMP.

Kemudian Dinas Pendidikan Kota Surabaya kembali mengeluarkan pengumuman bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di rumah tersebut diperpanjang hingga Senin, 21 Mei 2018. Pemerintah Kota Surabaya hanya mengeluarkan kebijakan tersebut untuk jenjang PAUD hingga SMP, dan tidak untuk jenjang SMA/SMK.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pengelolaan sekolah untuk jenjang pendidikan menengah berada di bawah Pemerintah Provinsi, bukan Pemerintah Kota/Kabupaten.
Dalam kesempatan ini Mendikbud juga menyampaikan keprihatinan dan menyesalkan jatuhnya korban anak-anak akibat aksi terorisme di Surabaya. Tragedi kemanusiaan tersebut, menjadi pelajaran penting bagi semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

“Terutama kepala sekolah untuk mewaspadai agar jangan sampai ada korban dari anak-anak yang masih punya masa depan. Kejadian ini akibat dari doktrin yang menyesatkan, terutama pengaruh dari gerakan radikal dan teror,” katanya.

Mendikbud juga mengimbau agar sekolah dan orang tua dapat menguatkan hubungan satu sama lain, sebagai bagian dari tripusat pendidikan dan penguatan pendidikan karakter (PPK). “Makanya kami ingin sekolah punya data lengkap hubungan antara siswa dengan orang tua, dan hubungan orang tua dengan sekolah,” ujar Mendikbud.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu berharap dapat terjadi hubungan yang baik antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dan jika ada perilaku menyimpang, baik oleh siswa ataupun orang tua, bisa segera diketahui.

Mendikbud menyatakan mengutuk peristiwa peledakan bom di Surabaya yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku. “Apapun alasannya, apapun keyakinannya, mengorbankan anak adalah suatu yang sangat dilarang di dalam ajaran apapun agamanya. Dan saya termasuk mengutuk apa yang telah terjadi itu, dan jangan diteruskan modus-modus yang sangat mengerikan ini,” tegasnya.

Didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ikhsan, Mendikbud juga menjenguk EH, siswa yang menjadi salah satu korban peledakan bom. “Alhamdulillah kondisinya sudah sangat bagus, sudah bisa tersenyum, sudah bisa diajak ngobrol, mudah-mudahan bisa segera sembuh,” ucapnya.

Editor: Ahmad Saefullah