Soal Dugaan Pemukulan Guru ke Siswa Hingga Meninggal, Ini Kata Kepsek SMA Batuan Sumenep

oleh -
Kepala SMA Batuan, Salehudin saat memberikan keterangan (foto : Musviq/Kabarjatim)
Kepala SMA Batuan, Salehudin saat memberikan keterangan (foto : Musviq/Kabarjatim)

SUMENEP– Jagad maya di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dihebohkan dengan sejumlah pemberitaan terkait adanya seorang guru yang tega memukul muridnya dengan gayung hingga meninggal dunia. Sejak kemarin sore, 19 Maret 2019, berita soal dugaan adanya pemukulan tersebut viral. Bahkan, ada sejumlah orang yang mengadukan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Versi pengadu, peristiwa nahas tersebut bermula saat siswa berinisial ADR (17), yang duduk di bangku kelas 11 A, SMA Batuan, mengikuti mata pelajaran agama. Namun, saat jam pelajaran berlangsung, ADR dikabarkan tidak mengerjakan tugas dan malah tertidur dibangkunya.

Sehingga, sang guru yang sedang memberikan mata pelajaran agama marah, dan memukul korban dengan gayung, dan mengena pada bagian kepalanya.

Selang berapa lama dari peristiwa itu, korban mengalami pusing dan kejang-kejang. Lalu korban dibawa ke Puskemas lenteng. Namun disana tidak sanggup, lalu di rujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moh Anwar Sumenep.

Namun oleh pihak rumah sakit, korban disarankan dirujuk ke rumah sakit di Pamekasan, lantaran keterbatasan peralatan. Sesampainya di rumah sakit Pamekasan, dokter menyatakan bahwa ada pembekuan darah akibat benturan benda keras di kepala korban. Hal itu dibuktikan dari hasil foto Rongen, dan diketahui jika di kepala korban ada pembekuan darah, khususnya di otak belakang.

“Makanya korban sempat mengalami kejang-kejang, karena pada otak bagian belakangnya ada pembekuan darah. Selanjutnya oleh dokter rumah sakit Pamekasan, korban disarankan dirujuk ke rumah sakit Surabaya, tapi belum dirujuk sudah meninggal dunia,” terang Wiwik Hawiyah Karim, selaku kuasa hukum korban.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMA Batuan, Salehudin menyatakan jika pemberitaan yang ditulis sejumlah media itu, hanya sepihak, dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

Sebab menurutnya, peristiwa pemukulan siswa tersebut, sudah terjadi sekitar lima bulan yang lalu. Pasca peristiwa itu juga, siswa berinisial ADR, masih aktif mengikuti mata pelajaran, hingga akhirnya sakit dan meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Pamekasan.

“Kejadian yang katanya guru memukul murid tersebut sudah sekitar lima bulan yang lalu. Dan bukan pukulan yang keras melainkan hanya patokan yang di lakukan guru ke dahi si murid menggunakan gayung,” terangnya.

Saleh juga menyebut, mengapa siswa itu di patok, karena si murid tidak mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh gurunya.

“Bahkan saat itu bukan hanya satu siswa yang di patok, melainkan teman satu bangkunya juga dipukul karena tidak mengerjakan tugas juga,” terangnya. Saleh juga mengklaim jika tidak ada kekerasan saat itu. Dan hal itu bisa ditanyakan kepada teman sebangkunya, yang juga ikut dipukul.

“Kesaksian teman sebangkunya itu sudah cukup menjadi bukti, bahwa tidak ada tindak kekerasan yang di lakukan oleh guru waktu itu,” paparnya.

Sedangkan saat disinggung mengenai gejala sakit serta gumpalan darah pada otak begian belakangnya, Saleh mengaku sudah mendapatkan informasi mengenai hal itu.

Apalagi, ada salah satu pihak yang mengatakan ada benjolan di kepala bagian belakang siswa, dan mata sebalah kiri si siswa terlihat bengkak.

“Setelah di diagnosis oleh pihak kedokteran, ternyata bengkak dan benjolan yang ada di kepala si siswa itu bukan karena benturan bendara keras, melainkan diduga akibat dari radiasi Hp. Itu amat masuk akal, karena setiap kali mengikuti KBM, siswa itu sering tidur. Tapi setelah jam istirahat, dia terlihat sering main Hp,” tegasnya.

Saleh juga mengaku jika pihak keluarga si murid dan aparat desanya, datang ke sekolah untuk meminta maaf, dan berjanji tidak akan melanjutkan laporannya ke kantor polisi. Selain itu, keluarga si murid bersumpah akan membela pihak sekolah.

“Tapi jika kasus ini terpaksa dilaporkan ke kantor polisi, maka pihak sekolah akan melakukan pembelaan,” tandasnya.

Editor : Nurul Arifin