Selangkah Lagi Banyuwangi Jadi Geopark Nasional, Ini Keunggulan yang Dimiliki

oleh -

BANYUWANGI – Mimpi Banyuwangi ditetapkan sebagai geopark nasional tinggal selangkah lagi. Tim Jejaring Geopark Indonesia sudah meninjau Banyuwangi. Hasilnya, Banyuwangi dinilai layak untuk diajukan menjadi Geopark Nasional.

Status ini akan semakin melengkapi prestasi Banyuwangi. Sebelumnya, Taman Wisata Alam Gunung Ijen dan Taman Nasional Alas Purwo, sudah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer dunia oleh UNESCO.

Untuk mempercepat penetapan sebagai geopark nasional, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas telah menerbitkan Surat keputusan (SK) pembentukan Tim Badan Pengelola Geopark Banyuwangi.

“Saya sudah mengeluarkan SK-nya. Tim BP Geopark Banyuwangi juga sudah dibentuk. Semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan sudah dibawa tim ke Jakarta,” ujar Anas.

Tim BP Geopark Banyuwangi terdiri dari Suhaili Yalin (IKAWANGI Bandung), Januarani Razak (Alumni ITB 81), Oman Abdurahman (Alumni ITB 81), dan Kemilau Fiska Noyta. “Tim Geopark Banyuwangi telah membuat rencana kegiatan hingga satu bulan ke depan. Fokus kegiatan penyusunan Dossier Geopark Nasional,” ungkapnya.

Berdasarkan penilaian, Banyuwangi memiliki tiga kekhasan geologi yang distandarkan UNESCO. Ketiga kekhasan itu meliouti geodiversity (keragaman bumi), biodiversity (keragaman hayati) dan cultural diversity.

“Secara geologis, di sini ada pantai dan gunung yang masih terjaga kealamiannya, yang didukung biodiversity-nya. Dari cultural diversity-nya, Banyuwangi dihuni suku yang beragam. Dari semua kekhasan ini, Banyuwangi memungkinkan meraih status geopark nasional,” jelasnya.

Menurut Anas, dengan ditetapkannya Banyuwangi sebagai taman nasional geopark, akan menjadi nilai tambah bagi Banyuwangi. “Dengan menjadi geopark, ada beberapa keuntungan yang didapatkan. Termasuk keuntungan ekologi. Artinya, sumber daya alam hayati dan budaya dalam cagar biosfer terlindungi dan terkelola dengan baik,” pungkas Anas.

Konsep geopark memiliki standar sendiri. Di antaranya mengacu pada pengembangan kawasan yang memberikan pengaruh terhadap konservasi, edukasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Konsep Geopark diperkenalkan pertama kali oleh UNESCO pada 2000-an. Geopark tidak hanya menjaga kelestarian alam, namun juga meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Saat ini, baru ada enam geopark di Indonesia telah masuk warisan UNESCO. Yakni Geopark Gunung Batur (Bali), geopark Gunungsewu (Daerah Istimewa Yogyakarta), Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark, Geopark Ciletuh (Jawa Barat), Geopark Kaldera Toba (Sumut), dan Geopark Merangin (Jambi).

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Rizki Handayani Mustafa menambahkan, pihaknya siap siap mengakomodir hal tersebut. Caranya dengan merangkul stakeholder pariwisata Academician, Business, Community, Government, dan Media (ABCGM).

“Rencananya, tahun ini juga (2018-red), Banyuwangi diusulkan sebagai taman nasional geopark. Kami siap mendukung sepenuhnya,” kata perempuan yang akrab disapa Kiki ini.

Kiki mengatakan, ekowisata semakin diminati masyarakat. Karena, masyarakat dapat langsung menerima manfaat sebagai pelaku ekonomi. Khususnya pada kegiatan ekowisata baik secara aktif maupun pasif.

“Kami juga sering menyelenggarakan Bimbingan Teknis Ekowisata. Tujuannya sangat jelas, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemandu ekowisata menjadi interpreter,” tutur Kiki.

Kiki menambahkan, berbagai usaha peningkatan kualitas kegiatan ekowisata di Indonesia terus dilakukan. Yang menjadi tujuan utamanya adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Kemenpar sendiri memiliki proyeksi target Ekowisata di Indonesia tahun 2019 sebesar 3.150.000 wisman. 35% diantaranya dihasilkan dari Geopark yang ada di Indonesia. Atau sebanyak 1.102.500 wisman. Lalu Ekowisata di Kawasan Hutan Konservasi sebesar 40%. Ketiga Ekowisata di Kawasan Hutan Non Konservasi sebanyak 25% atau sebesar 787.500 wisman.