Satu Tahanan Rutan Sumenep yang Kabur Belum Tertangkap

oleh -
Penangkapan Tahanan di Rutan Sumenep
Penangkapan Tahanan di Rutan Sumenep

SUMENEP – Setelah sebelumnya ada dua orang narapidana yang kembali ke Rumah Tahanan (Rutan) Sumenep, Jawa Timur, kali ini masih ada satu tahanan lagi yang belum tertangkap.

Dia adalah Matrawi, warga Kecamatan Batuputih yang sempat kabur bersama Hasan Basri (terdakwa kasus narkoba) dan Rianto (terdakwa kasus pencurian).

Kepala Rutan Klas II Sumenep, Beni Hidayat membeberkan terkait licinnya tahanan Matrawi saat dilakukan pengejaran. Beberapa kali pihak rutan bersama aparat kepolisian melakukan pengintaian, namun gagal juga untuk menangkap pria berumur 37 tahun tersebut.

“Sudah kami lakukan pengintaian lokasi keberadaan Matrawi ini, cuma kami selalu gagal. Bisa dibilang orang ini licin ketika akan ditangkap,” katanya.

Sejak kabur dari Rutan Klas IIB Sumenep, tujuh hari lalu, 4 Februari 2019, bersama dua orang lainnya, hingga sekarang Matrawi ini belum kembali. Salah satu kendala yang dihadapi tim dari Rutan Sumenep untuk menyeret kembali karena yang bersangkutan selalu bergerak.

Menurut Beni, Matrawi juga memiliki banyak mata-mata. Ibaratnya, saat tim masih dibawah gunung, yang diatas gunung sudah mengetahui.

“Yang jelas semua usaha sudah kami lakukan. Dari unsur kepolisian dan rutan sendiri sudah bergerak sejak kemarin,” terangnya.

Sementara ditanya mengenai statusnya, apakah sudah dinyatakan masuk daftar pencarian orang atau belum, Beni tidak memberikan penjelasan secara rinci.

“Kalau DPO itu bukan wewenang kami, biasanya pihak kepolisian. Yang jelas kami hanya melakukan pencarian,” tandasnya.

Untuk diketahui, mulanya tiga orang tahanan di Rutan Klas IIB Sumenep kabur pada Senin, 4 Februari lalu. Kemudian di hari yang sama, Riyanto menyerahkan diri dengan difasilitasi oleh Polsek Ambunten.

Lalu pada Rabu 6 Februari 2019 siang, Hasan Basri ditangkap dirumah rekannya di Kecamatan Batang-batang. Dengan begitu maka tinggal satu orang tahanan yang belum kembali, yakni Matrawi.

 

Editor : Nurul Arifin