Satpolair Sumenep Tak Miliki Penyidik Khusus

oleh -

SUMENEP: Satuan polisi perairan (Satpolair) Sumenep, Jawa Timur, tidak memiliki penyidik tetap. Nyatanya hal tersebut justru membuat lambannya penanganan perkara di satuan yang berkantor di Pelabuhan Kalianget itu.

Kepala Satpolair Polres Sumenep Iptu Agung Widodo menyebut jika satuannya itu saat ini tidak memiliki penyidik. Namun setiap perkara yang ditanganinya justru meminta bantuan ke penyidik bantu.

“Terus terang dari awal saya sudah ngomong kalau disini tidak ada penyidiknya. Mau dilimpahkan, polres juga banyak perkara akhirnya jalani sendiri. Dan saya terus berkordinasi dengan polres. Apalagi saya ini kan pelayan masyarakat, jadi komentar apapun kami terima,” jelasnya kepada media ini saat dikonfirmasi soal lambannya penanganan dugaan kasus dalam tenggelamnya KLM Jaya Abadi.

Dia juga menyebut jika semisal ada kasus yang sedang ditangani, maka penyidiknya adalah kasat sendiri. Dalam hal ini Kasatpolair.

“Atas nama saya sendiri, kasat sebagai penyidik. Cuma saya diperbolehkan. Ada pun orangnya ada. Walaupun ada. Jadi kerjanya merangkap,” terangnya.

Akibat hal tersebut, dia meminta bantuan kepada Polres Sumenep dalam rangka mengusut tuntas perkara yang sedang ditanganinya. Termasuk juga guna menjaga-jaga kemungkinan perkara lain yang akan datang dikemudian hari.

“Sebetulnya sering. Setiap pertemuan kita sampaikan. Kalau ada permasalahan, terus tidak ada penyidiknya pasti susah,” jelasnya.

“Setiap kali rapat, kami menyampaikan bahwa di Satpolair tidak memiliki penyidik. Saya meminta bantuan. Walaupun terkadang kami yang ada disini menjadi penyidik sendiri,” jelasnya.

Sebelumnya, keluarga korban tenggelamnya KLM Jaya Abadi melalui kuasa hukumnya menilai pihak Satpolair terlalu lamban dalam menangani dugaan kasus tersebut. Nilai mereka, laporan yang terjadi pada Mei lalu itu hingga kini masih belum ada kejelasan.

“Sebagai kuasa hukum (korban) kecewa perkara yang terang benderang merupakan tindak pidana, kok lambat masih proses penyelidikan,” tegas kuasa hukum korban, Zainur Ridlo beberapa waktu lalu. NOE