RSUD Dr Soetomo Sebut Risma Belum Pernah Komunikasi

oleh -

SURABAYA: Direktur RSUD Dr Soetomo Surabaya, Joni Wahyuadi, menyebut dirinya tidak pernah diajak komunikasi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Padahal, kata Joni, dirinya sangat menghargai orang nomor satu di Kota Surabaya tersebut.

“Saya belum pernah dihubungi (Risma, red) sampai sekarang. Ada buktinya lho kalau saya sangat menghargai beliau, tapi saya gak akan buka, nanti dipikir mengungkit yang dulu-dulu. Kalau mau datang ke Soetomo monggo, mau ke ruangan saya monggo,” kata Joni, di Surabaya, Selasa (30/6/2020).

Meski tidak pernah komunikasi dengan Risma, Joni mengklaim hubungannya dengan Pemkot Surabaya sangat mesra. Bahkan, komunikasi antara RSUD Dr Soetomo dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, sangat intentens khususnya sepanjang pandemi covid-19.

Menurut Joni, komunikasi itu dilakukannya setiap sore hari mengenai update data covid-19 dengan Dinkes se- Jatim, tak terkecuali Pemkot Surabaya. Joni sempat heran dengan tudingan Risma yang menyebut kesulitan berkomunikasi dengan manageman RSUD Dr Soetomo.

“Kalau menghubungi Pak Soetomo jelas gak bisa, karena kan beliau sudah tahunan meninggal. RSUD Dr Soetomo itu kan ada di Surabaya, bisa komunikasi langsung ke saya, bisa juga ke ruangan saya, monggo,” kata Joni berkelakar.

Selain itu, Joni juga buka-bukaan data pasien yang dirawat di RS yang ia pimpin 79 persen adalah warga Surabaya, sementara 21 persen sisanya warga dari berbagai provinsi seperti Maluku, Palembang, Jawa Tengah, Jawa Barat dsb. Ini membatah tudingan Risma yang juga mengaku kesulitan, bahkan ditolak oleh RSUD Dr Soetomo.

“Banyak teman saya di luar negeri tanya juga, kok ada berita seakan-akan RS Soetomo tidak menerima warga Surabaya berobat, padahal 79 persen pasien di RS Soetomo warga Surabaya. Kita itu dekat di hati, kalau ada sedikit berbeda, itu hal yang biasa. Yang jelas pesan presiden harus sama persepsi, ini kan memang krisis kesehatan,” jelasnya.

Hingga saat ini, Joni memastikan RS Soetomo tidak pernah menolak pasien, mengingat RS tersebut merupakan RS pendidikan yang menjunjung tinggi nilai ilmiah. Asalkan ada indikasi medis, Joni memastikan pasien akan diterima dan akan dirawat dengan sangat baik.

“Yang pasti, kita dilarang membedakan pasien untuk dirawat. Bahkan kami pernah merawat pasien dari Rusia yang jatuh di Gunung Bromo. Itu orang asing dan kita rawat dengan baik. Orang asing saja saya perhatikan, apalagi warga Surabaya,” kata Joni.

NOE