Tanggulangin: Harapan Baru Penopang Kesejahteraan Sosial Bagi Masyarakat Sidoarjo

oleh -

Oleh  :

Aditiyo Saputra,S.Psi.

Aktifis Surabaya, Pengurus Besar HMI

Siapa yang tidak mengenal daerah Kecamatan Tanggulangin di Sidoarjo, sebagai daerah yang didalamnya terdapat Sentra Industri tas dan kerajinan berbahan kulit yang berdiri sudah cukup lama yaitu sekitar tahun 1975-an. Koperasi INTAKO dan IKM Tanggulangin memiliki hampir seribu unit usaha yang berjalan dengan kemampuan menyerap hampir tiga ribu tenaga kerja di dalamnya. Tanggulangin selalu ramai dikunjungi masyarakat dalam kota, luar kota bahkan luar negeri yang ingin membeli tas, sepatu maupun produk berbahan dasar kulit berkualitas lainnya. Sempat mengalami sepi pengunjung akibat musibah lumpur PT Lapindo beberapa tahun yang lalu dan banjirnya barang tas impor dari China membuat Kementrian Perindustrian Republik Indonesia merasa terpanggil untuk melakukan revitalisasi sentra Tanggulangin. Dinas PORABUDPAR Kabupaten Sidoarjo mencatat jumlah pengunjung di IKM Tanggulangin ada 104.053 orang pada Tahun 2014, naik menjadi 244.974 jumlah pengunjung per Tahun 2016, terus bertambahnya pengunjung menandakan Tanggulangin dapat merangsang pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat di Sidoarjo.

Pertumbuhan ekonomi berbasis UKM yang semakin bergeliat juga membuka peluang tenaga kerja bagi masyarakat bertumbuh. Akibatnya, terjadilah mobilitas horizontal dalam masyarakat desa ke kota yang juga menuntut dibutuhkannya pembangunan infrastrukur hunian dan layanan publik baru bagi masyarakat di Sidoarjo. Umumnya kita dapat melihat mobilitas tersebut dari semakin banyaknya warga pendatang di Sidoarjo yang kemudian tinggal di perumahan atau komplek-komplek yang baru dibangun di Sidoarjo demi alasan pekerjaan. Seperti yang biasa kita lihat juga di kota Surabaya, warga pendatang yang tinggal di perumahan lebih bersifat individualistik karena kesehariannya kurang membaur dengan tetangga apalagi dengan masyarakat lokal asli Sidoarjo. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Nur Fahmi (2013) yang membahas tentang ruang lingkup masalah sosial atas dampak pembangunan di Sidoarjo; terdapat interaksi yang berjalan kurang baik antara masyarakat pendatang dengan masyarakat asli Sidoarjo yang juga menggeser pola pikir dan perilaku masyarakat dari yang sebelumnya terdapat budaya gotong royong membangun rumah menjadi lebih individualistik. Hal tersebut bisa berdampak lebih tidak kondusif lagi apabila tidak ditopang melalui aktivitas masyarakat yang melibatkan interaksi massal secara positif antara pendatang dan masyarakat asli Sidoarjo.

Melalui Revitalisasi Kawasan Wisata Terpadu Tanggulangin 3 in 1; Wisata Belanja, Wisata Budaya dan Wisata edukasi industri yang akan diimplementasikan saat ini. Baik perubahan fisik, pertunjukan budaya, workshop edukasi dan program penunjang bagi pengunjung Tanggulangin diharapkan dapat meningkatkan kualitas interaksi sosial antara masyarakat pendatang dengan masyarakat lokal di Sidoarjo. Selain itu, Tanggulangin diharapkan juga mampu mewujudkan kesejahteraan sosial bagi masyarakat sebagaimana yang didefinisikan dalam UU nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial : “…kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.” Atau semoga saja berkelanjutan sebagai upaya menjaga kondisi sosial masyarakat dengan rasa nyaman, aman dan tentram memenuhi kebutuhan hidupnya.