Rakit Hidroponik Mulai Diujicoba untuk Bercocok Tanam di Rawa

oleh -

JEMBER – Tiga peneliti Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember, Sukron Romadhona, T. Sutikto, dan Joko Sudibya, mengembangkan pembuatan rakit apung hidroponik. Dengan rakit apung hidroponik ini, maka petani tetap dapat memanfaatkan lahan rawa selama musim penghujan.

Riset ini bertolak dari kondisi geografis Jember yang memiliki lahan berupa rawa di Desa Gumukmas, Kecamatan Gumukmas. Selama ini lahan tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh petani di masa kemarau saja, di saat air menyusut. Sementara di musin hujan di kala air menggenangi rawa, maka petani tidak bisa memanfaatkannya.

Sukron Romadhona menjelaskan, rakit apung hidroponik yang diciptakan sebenarnya modifikasi dari cara bercocok tanam hidroponik yang sudah ada. “Hanya saja kami praktekkan di lahan rawa yang luas dan memiliki karakteristik tersendiri. Jika biasanya bercocok tanam hidroponik memakai net pot yang ditaruh di meja khusus, maka kami ganti dengan paralon dengan alat pengapung. Harapannya jika di musin kemarau rawa yang ada dipakai bertani cabe, maka di musin penghujan dapat ditanami sayur mayur seperti selada, pok choy dan lainnya, sehingga petani Gumukmas memiliki alternatif lahan bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan rawa yang ada,” jelas Sukron melalui siaran pers yang diterima Kabarjatim.com

Alat yang dikembangkan ketiga dosen tersebut tergolong sederhana sehingga mudah dirakit oleh para petani. Menggunakan paralon sebagai kerangka, dan botol plastik bekas air mineral yang mudah diperoleh sebagai landasan agar kerangka tetap mengapung.

Sementara untuk menyalurkan nutrisi ke net pot maka digunakan kain flanel bekas. “Dalam hitungan kami, satu perangkat rakit apung menghabiskan dana sekitar Rp400 ribu, bahkan jika kerangka paralon diganti dengan bambu, maka ongkosnya lebih murah lagi,” lanjut Sukron.

Alat rakit apung hidroponik ciptaan mereka sudah diujicobakan pada Minggu (9/12) di hadapan para petani anggota kelompok tani Pulorejo, santri Pondok Pesantren Samratul Afkar, dan perangkat Desa Gumukmas di balai desa setempat.

Untuk kali pertama ini, Sukron Romadhona dan kawan-kawan mempraktekkan cara bercocok tanam di rawa dengan rakit apung hidroponik dengan 78 lubang yang ditanami selada, dilahan rawa seluas 100 x 50 meter persegi, dari luas total rawa di Desa Gumukmas yang mencapai 25 hektare.

Dalam jangka waktu 30 hingga 35 hari ke depan, para petani dapat panen selada hingga 10 kilogram. Nantinya diharapkan para petani anggota kelompok tani Pulorejo dan santri Pondok Pesantren Samratul Afkar dapat mempraktekkan bercocok tanam di rawa dengan rakit apung hidroponik.

“Sengaja kami menanam sayur yang masa tanamnya pendek, menyesuaikan dengan durasi musim penghujan. Kami juga berencana di tahun depan akan mencoba memadukan rakit apung hidroponik dengan ternak ikan, agar penghasilan yang didapat oleh petani makin besar,” imbuh Sukron yang magisternya di bidang ilmu lingkungan ini.

Namun Sukron mengingatkan, lahan rawa di Gumukmas memiliki karakteristik tersendiri, jadi memerlukan penanganan khusus pula. “Dari penelitian yang sudah dilakukan, lahan rawa di Desa Gumukmas ternyata tergolong lahan gambut muda. Kadar keasamannya rendah sekali yakni hanya 250 ppm saja, padahal agar tanaman dapat berkembang dengan maksimal, maka memerlukan kadar keasaman antara 650 ppm hingga 690 ppm. Untuk menangani masalah ini kami menggunakan pupuk NPK,” ujarnya lagi.

Program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tiga serangkai Sukron Romadhona, T. Sutikto, dan Joko Sudibya mendapatkan tanggapan positif dari warga Desa Gumukmas. Hal ini tampak dari banyaknya petani dan santri yang hadir di balai desa setempat saat pelatihan dilaksanakan. Bahkan Bambang Widjanarko, Kepala Desa Gumukmas, mewakili warganya meminta agar bimbingan teknis yang diberikan terus berlanjut, agar warga Gumukmas benar-benar menguasai tata cara bercocok tanam hidroponik di lahan rawa.

“Saya berharap pemanfaatan rakit apung hidroponik di lahan rawa yang ada bakal membawa kesejahteraan bagi warga Desa Gumukmas,” ucapnya.