Proses rekam data BPJS untuk pasien cuci darah mulai gunakan sidik jari

oleh -

SURABAYA: Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memangkas prosedur pelayanan kesehatan bagi pasien hemodialisis (Cuci darah,red), mulai januari 2020, yakni dengan menggunakan perekaman data dan sidik jari atau finger print di rumah sakit atau klinik utama yang menyediakan alat untuk hemodialisis.

Kepala Bidang SDM Umum dan Komunikasi Publik BPJS Kesehatan Surabaya, Dhani Rahmadian, mengatakan kebijakan ini diambil, selain sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas dan prosedur pelayanan, khusunya bagi pasien hemodialysis, juga karena adanya penyesuaian iuran berdasarkan Perpres Nomor 75 Tahun 2018.

“Dengan adanya penyesuaian iuran ini kami juga berharap ada peningkatan kualitas layanan bagi peserta JKN-KIS. Salah satunya adalah untuk mempermudah pasien hemodialisis ini,” terang Dhani saat ditemui diruang kerjanya. Selasa 21 Januari 2020.

Ia Menambahkan, sebelum diterapkannya sistem perekaman data dan sidik jari, pasien hemodialisis harus memiliki surat rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang harus diperpanjang setiap 3 bulan sekali.

“Dengan  adanya kebijakan baru ini, kami berharap akan memangkas proses itu, sehingga mereka tidak perlu lagi memperpanjang rujukannya, cukup sudah memasukkan pencatatan data dan sidik jari. Kalau data-data sudah terekam di RS, mereka bisa langsung berobat dan tidak perlu minta rujukan lagi dari FKTP-nya,”Imbuhnya.

Terpisah, Rumah sakit UNAIR sebagai salah satu rumah sakit yang menerapkan aturan baru tersebut, langsung berupaya mengimplementasikannya dalam pelayanan.

“Ketika aturan terbaru ini ditetapkan, kami langsung menyiapkan sarana dan prasarana sebagai penunjang prosedur bagi pasien HD ini. Bahkan untuk sistem finger print, sebenarnya kami sudah terapkan sejak tahun 2017 lalu,” terang Qoirul Anwar selaku Kepala Perawat Instalasi Hemodialysis Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair).

Khusus untuk pasien HD ini, lanjut Qoirul, RS Unair memiliki dua ruangan dengan total 26 mesin, meski saat ini baru beroperasi 15 mesin (lantai 1 ada 9 mesin – realisasi 4 mesin, lantai 6 ada 16 mesin – realisasi 10 mesin, dan 1 mesin di ICU).

“Dengan kapasitas mesin yang sudah terpasang ini, setiap hari rata-rata pasien JKN–KIS yang bisa kami layani sebanyak 28 pasien atau sekitar 600-700 pasien setiap bulannya,” Pungkasnya.(Noe)