Pramuka Adalah Proses Kaderisasi Kepemimpinan

oleh -

TUBAN – Dari banyaknya kegiatan di sekolah, Pramuka merupakan aktivitas yang paling sering ditemui. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga bangku Perguruan Tinggi, kepanduan ini selalu hadir dalam barisan depan sebagai motor kepemimpinan peserta didik.

Dari penggolongannya sendiri, Pramuka terbagi dalam beberapa golongan. Meliputi golongan Pramuka Siaga (umur 7-10 tahun, atau kelas 2-4 Sekolah Dasar), Pramuka Penggalang (usia 11-15 tahun, atau kelas 5-6 SD dan 7, 8, 9 SMP), Pramuka Penegak (usia 16-20 tahun, biasanya siswa SMA sederajat), Pramuka Pandega (usia 21-25 tahun, atau biasanya tingkat Perguruan Tinggi), berikut Golongan Pramuka Dewasa (usia 25 tahun keatas, atau belum berusia 25 tahun tapi sudah menikah).

Dari golongan-golongan tersebut, bisa disimpulkan bahwa Pramuka tak pernah lepas dari pendidikan formal. Namun demikian, apakah harus seorang murid mengikuti pandu Praja Muda Karana tersebut? Mengapa alasan pasti seorang siswa memilih Pramuka dalam proses pendidikannya? Semua itu dijawab ringkas oleh dara muda asal Desa Klotok, Kecamatan Plumpang ini.

“Pramuka itu  memberikan hal yang beda. Pramuka itu ada diantara sekolah dan rumah,” kata Nunuk Hidayati kepada kabarjatim.com.

Wakil Ketua Pramuka Dewan Kerja Daerah (DKD) Jawa Timur itu menjelaskan, untuk menjaring kegiatan yang lebih positif maka Pramuka hadir diantara proses pencarian jati diri, hingga pembentukan karakter dan mental.

“Untuk menjadikan dan mengarahkan mereka menjadi kader-kader pemimpin,” tambah gadis yang tengah menempuh pendidikan Strata 1 jurusan Hukum di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Menurutnya, kelebihan ikut Pramuka dibanding kegiatan lain ialah lebih kepada kaderisasi kepemimpinan. Anak-anak muda, mulai dari usia 7 hingga 25 tahun dikader menjadi seorang pemimpin yang mampu menyikapi dan menangani semua hal dengan baik.

Sedangkan motivasi lain tentang siswa agar lebih giat dan memiliki motivasi tinggi di Pramuka, sambung Nunuk, sangat disarankan untuk generasi milenial ini agar mengikuti dulu bagaimana perkembangan Pramuka saat ini.

“Pramuka masa kini bukanlah Pramuka kuno, sekarang sudah sangat mendunia. Karena seluruh dunia sudah ada Scoutnya, yaitu Pramuka,” tegas perempuan yang kerap disapa Nunuk itu.

Jika dilihat dari perkembangan masa ke masa, memang Pramuka masa lalu hanya ditengarai dengan aktivitas tepuk-tepuk dan bernyanyi, gembira riang. Beda dengan masa kini, selain tetap mempertahankan budaya lalu, Pramuka hari ini sudah makin melejit bersamaan perkembangan teknologi yang ada.

Mereka, anggota Pramuka, sudah bisa membuat dan merakit robot layaknya robotika yang bernotaben pada lini sains dan teknologi tepat guna. Selain itu, Pramuka juga sudah mempelajari tembak menembak, berkuda, serta aktivitas lainnya.

“Untuk anggota Pramuka khususnya di Tuban, pesan saya bacalah. Apapun itu, bacalah,” pungkasnya menekankan pentingnya Literasi dalam Pramuka dan pendidikan.

Editor :  Rusmiyanto