Pilpres 2019 Diprediksi Rematch Jokowi-Prabowo, Peluang Gatot Tipis Jadi Cawapres

oleh -
Gatot Cium Tangan SBY (ist/tribunnews)

JAKARTA-Jelang pendaftaran bakal Capres dan Cawapres pasa bulan Agustus mendatang, pertarungan sengit terjadi di posisi perebutan Cawapres. Pasalnya, pada pilpres 2019 diprediksi akan terjadi rematch antara Jokowi dan Prabowo.

Dalam konstalasi politik hingga hari ini, peluang munculnya poros ketiga semakin kecil. Terutama jika judicial review President Threashold (PT) 20 persen sebagai syarat Capres yang saat ini digugat oleh sejumlah aktivis kalah di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Saat ini tidak ada nama kuat selevel Jokowi dan Prabowo yang mengakibatkan banyak parpol cenderung bermain aman agar tidak kalah,” kata Zaenal A Budiyono, Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC) kepada wartawan Sabtu (23/6/2018).

Menurut Zaenal, di pilpres 2019 mendatang pertarungan sengit justru terjadi di posisi Cawapres. Isu Cawapres ini masih dibahas di dua kubu tersebut. Salah satu nama yang berpeluang adalah Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Nama Gatot juga masuk dalam konstalasi tiga besar bursa Capres. Merujuk hasil sejumlah lembaga survei, Gatot menduduki peringkat satu sebagai Cawapres Jokowi.

Meski demikian, langkah Gatot tidaklah mudah. Kata Zaenal, di internal Jokowi masih ada sejumlah nama-nama profesional yang kemungkinan bisa digandeng sebagai Cawapres. Sebut saja ada Moeldoko (Mantan Panglima TNI yang saat ini sebagai Kepala Kantor Staf Presiden). Kemudian ada nama Mahfudz MD yang dikenal memiliki pengalaman di birokrasi, akademisi. Ada juga Susi Pudjiastuti yang dikenal sebagai menteri memiliki banyak prestasi. Ditambah lagi Sri Mulyani yang merupakan menteri keuangan terbaik di dunia karena telah menerima penghargaan.

Selanjutnya di internal koalisi Parpol Pendukung ada sejumlah nama-nama kuat. Mulai dari Muhaimin Iskandar (Ketum PKB), Rohmanurmuzy (Ketum PPP) hingga Airlangga Hartarto (Ketum Golkar). “Bila pertimbangannya untuk perimbangan kekuatan politik dan memperkuat elektabilitas, Jokowi cenderung akan memilih calon dari parpol yang sudah memiliki basis,” tandasnya.

Lantas bagaimana peluang Gatot di poros Prabowo. Dosen FISIP Universitas Al Azhar Indonesia ini menyebut sulit dibayangkan jika ada pasangan yang memiliki latar belakang sama yakni militer. Pengalaman 2014, Prabowo yang berpasangan dengan sipil (Hatta Rajasa) justru hanya kalah tipis dari Jokowi – JK.

“Mempertahankan momentum 2014 menjadi penting bagi Prabowo, dan dalam upaya kesana, ia membutuhkan sosok sipil yang mumpuni,” jelasnya.

Sementara tandem politik Partai Gerindra yakni PKS sejauh ini belum secara terang-terangan mendorong Gatot sebagai Cawapres. PKS masih fokus mendukung sembilan nama dari Internal partainya sendiri untuk kepentinvan Pileg mendatang. “Satu-satunya peluang adalah mengharapkan poros ketiga mencalonkan Gatot sebagai Capres. Tapi sekali lagi peluangnya sangat kecil, karena Partai Demokrat juga memiliki calon tak kalah menarik pada diri AHY,” tambahnya. @VIN