Petani Desak Khofifah Serius Pada Sektor Pertanian

oleh -

JOMBANG:  Masyarakat Kabupaten Jombang mendesak Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serius memperhatikan nasib para petani. Salah satunya terkait sulitnya para petani mendapat pupuk bersubsidi, dan bibit yang tahan hama dari pemerintah.

Aspirasi masyarakat ini disampaikan kepada Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jatim, Ahmad Athoillah, ketika melakukan reses di Dusun Balongombo, Desa Tembelang, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Minggu (13/9/2020). Mas Atho’ pun berjanji akan memperjuangkan kesejahteraan bagi petani.

“Masalah pupuk ini tak hanya dialami masyarakat Jombang, petani di berbagai daerah di Jatim juga sama mengeluh sulitnya mendapat bantuan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Yang jelas, kami akan berjuang membantu petani demi kesejahteraan mereka,” kata Mas Atho’.

Politisi PKB dari anggota Komisi B (Pertanian) DPRD Jatim itu, menganggap wajar jika banyak petani di Jatim belum menerima bantuan pupuk subsidi. Pasalnya, Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan pupuk untuk Jatim hanya sebanyak 1.349.594 ton pada tahun 2020. “Tapi Alhamdulillah setelah Komisi B berdiskusi berhasil meyakinkan Kementan. Sehingga ada penambahan pupuk bersubsidi untuk Jatim tahun anggaran 2020 ini,” kata Mas Atho’.

Kata Mas Atho’, Kementan menambah pupuk bersubsidi sebanyak 918.233 ton, menjadi 2.367.827 ton pada tahun ini. Jutaan ton pupuk bersubsidi itu terdiri dari lima jenis pupuk, yaitu pupuk urea 814.302 ton, pupuk SP-36 95.553 ton, pupuk jenis ZA 303.497 ton, pupuk NPK 718.046 ton dan pupuk organik sebanyak 336.429 ton.

“Tentu ini menjadi angin segar bagi petani di Jatim. Tentu kami akan mengawal sampai benar-benar terealisasi untuk para petani,” kata politisi dari dapil Jombang-Mojokerto itu.

Sementara itu, Kepala Desa Tembelang, Subti Hidayanto, mengatakan warganya mayoritas sebagai petani. Namun Subti mengaku kesulitan ketika mendapat keluhan dari warganya, yang belum menerima pupuk bersubsidi.

“Masyarakat tembelang dominan petani, kami harap kebutuhan masyarakat terkait pertanian bisa dibantu. Misalnya soal kebutuhan pupuk, di mana mereka harus punya kartu jika ingin mendapatkan pupuk. Yang jelas petani harus sukses, karena masyarakat kami mayoritas petani,” kata Subti.

Wahyudi, salah satu petani asal Tembelang, menyebut ada petani yang sudah memiliki kartu tani, kecewa dengan bantuan pupuk dari pemerintah. Sebab, kualitas pupuk tersebut tidak sebagus kualitas pupuk produksi luar negeri. “Kualitas pupuk bersubsidi tidak sebagus pupuk dari luar negeri. Meski harga pupuknya lebih mahal, tapi selisihnya sedikit. Sehingga petani banyak yang membeli,” katanya.

Oleh karena itu, Wahyudi berharap pemerintah serius memperhatikan para petani. Bukan hanya sekedar membantu, namun dengan kualitas pupuk buruk. “Selain kualitas buruk, jika tanaman diserang hama langsung ludes. Kami harap pemerintah juga memberi bantuan bibit tahan hama, sehingga tanaman bisa membuahkan hasil maksimal,” tandasnya. NOE