Perajin Terompet Tradisional Akui Permintaan Pesanan Menurun

oleh -

JOMBANG-Jelang Natal dan Tahun Baru, perajin terompet tradisional kerap dibanjiri pesanan. Namun di tahun ini permintaan tersebut terjadi penurunan yang cukup memprihatinkan.

Hal tersebut diutarakan oleh perajin terompet tradisional Supardi (57), asal Desa Mojowarno, Kabupaten Jombang. Ia sudah menjalankan profesi sebagai perajin terompet tradisional sejak 30 tahun yang lalu. Dengan usia yang tak muda lagi, Supardi masih bisa memproduksi 100 buah terompet tiap harinya.

“Untuk tahun ini permintaan pesanan menurun, kemungkinan karena banyaknya terompet – terompet modern dari pabrik yang berbahan plastik” ucap kakek 4 orang cucu ini saat ditemui kabar jatim di rumahnya, Minggu (23/12/2018)

Tak hanya, lanjut Supardi, permintaan pesanan yang menurun, namun juga pendapatan yang ikut menurun lantaran harga bahan baku yang cenderung mengalami kenaikan tiap tahunnya.

“Tahun kemarin masih mendapat pesanan sampai 2000 buah, tahun ini cuma memprodukdi 1000 buah. Bahan bakunya juga naik harganya, tapi saya jualnya dengan harga tetap, karena kalau saya naikkan nanti malah tidak laku” imbuhnya.

Ia menambahkan, terompet yang dihasilkan ada 2 macam, yakni terompet dengan bentuk panjang dan bentuk berliuk – liuk dengan ada kepala naga di ujungnya. Namun ia tak menjualnya sendiri melainkan diambil oleh para tengkulak dari beberapa wilayah di Jombang, bahkan ada yang dari Kota Kediri.

“Dari saya harga per terompet 2 ribu rupiah untuk bentuk yang panjang, sedangkan yang berkepala naga 5 ribu per buah. Dari tengkulak biasanya di ecer dengan harga 10 – 15 ribu per buah. Tahun lalu saya bisa untung sampai 15 juta, tapi tahun ini menurun” pungkasnya.

Akibat penurunan pesanan yang mencapai 50% tersebut, tak membuat kakek asal Mojowarno ini patah semangat. Ia akan tetap mempertahankan serta memproduksi terompet tradisional dengan model yang baru supaya bisa bersaing dengan terompet modern. @VIN