Penerima Manfaat Anggaran RTLH Dirasa Kurang

oleh -

BONDOWOSO – Perlunya rekomendasi panitia khususkan (Pansus) Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk menaikan plafon anggaran dari 17.500.000 menjadi 20 juta.

Mengingat banyaknya kekurang yang masih menjadi beban bagi penerima  manfaat atau bantuan RTLH Tahun 2019.

Hal ini dikatakan M. Sinol Sekretaris Avatar Bondowoso saat dijumpai awak media,Senin (19/8/2019). “Ada kekurangan, kurangnya itu pertama anggaran yang disiapkan hanya untuk mendirikan bangunan tapi plester dinding itu hanya di bagian depan sedangkan di bagian dalam dinding tidak ada plester atau kulitnya,” terangnya.

Sinol juga menambahkan ketika pihaknya turun kelokasi ternyata dalam bangunan RTLH tersebut tidak ada penyekat atau kamar, layaknya gudang.

LOrang yang menempati itu tentu saja tidak semua janda, atau sudah tua, tapi ada yang masih punya suami istri. Nggak mungkinlah hal- hal privat itu dilakukan dengan model rumah kayak gudang semacam itu ,ini kan menjadi tidak nyaman,” tambahnya.

Diharapkan pemerintah kabupaten memberikan bantuan kepada rakyat miskin tentunya yang bisa memberi rasa benar-benar  nyaman.

“Saya harap pansus RTLH juga merekomendasikan hal ini,yaitu dengan menaikan plafon anggarannya dan  tentunya ini bisa dilakukan bila dituangkan dalam perbup” imbuhnya.

Dikatakan bahwa, di RPJMD itu hanya menentukan jumlah yang akan dibangun setiap tahun tanpa menyebutkan nominal besarnya biaya stimulan RTLH.

“Jika dinaikan menjadi 20 juta dari 17,5 juta ini saya pikir cukup, dan tak ada beban swadaya yg menjadi beban penerima.

Karena saya lihat di bawah itu ya memang kayak orang sedang di dalam gudang, di situ punya satu anak dan lain sebagainya ini kan berat. Seharusnya bentuk perhatian pemerintah harus tuntas, diselesaikan sekalian. Jadi ruang tamu itu 3×4 kemudian 2,5 x 3 itu kamar sudah selesai ,” katanya.

Diaharapkan dengan dana 20 juta diplester luar dalam(dinding kulitan) agar tidak menyisahkan masalah pada lenerima manfaat.