Pemerintah Dorong Pamekasan Jadi Sentra Industri Garam

oleh -

PAMEKASAN – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot pengembangan produksi garam nasional. Hal ini salah satunya dituangkan melalui peresmian fasilitas Instalasi Pengembangan Sumber Daya Air Laut (IPSAL) di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan.

Peresmian dilakukan langsung oleh Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM), Sjarief Widjaja, dan Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, kemarin.

“Garam merupakan komoditas strategis yang diperlukan untuk berbagai hal, baik untuk produksi pangan maupun produksi industri non-pangan. Garam juga ditetapkan sebagai salah satu komoditas dari sembilan kebutuhan pokok bagi rakyat Indonesia. Oleh karenanya, dari tahun 2004 hingga 2017 Pusat Riset Kelautan telah melaksanakan riset terkait dengan sumber daya laut, khususnya garam,” ucap Sjarief.

Ia menyatakan, Indonesia memiliki potensi garam yang besar dengan kondisi alam yang dimiliki. Menurutnya, dengan mengoptimalkan pembangunan tambak untuk meningkatkan produksi garam nasional, Indonesia dapat mengurangi impor garam, bahkan menjadi pemasok garam untuk keperluan ekspor.

“Garam itu syaratnya dua, yakni matahari dan air laut. Indonesia adalah negara tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun. Air laut kita pun luar biasa dengan garis pantai sepanjang 95 ribu km. Kalau dipasang tambak garam di disepanjang pantai, tentu kita dapat memasok garam ke seluruh dunia. Oleh karenanya, kita harus memproduksi garam sendiri. Kurangi impor garam dengan memperbaiki kualitas garam dan ketersediaan stok yang cukup,” tegas Sjarif.

Guna mencapai hal itu, ia mengajak Bupati Pamekasan untuk bersama-sama mengembangkan IPSAL yang telah diresmikan agar Pamekasan dapat menjadi salah satu sentra industri garam.

“Saya mengajak Bupati Pamekasan untuk bersama-sama mengembangkan hilirisasi garam. IPSAL ini adalah fasilitas kita. Harapan kami, dengan teknologi yang kita miliki, dapat mengalirkan hasil riset dan teknologi tersebut ke desa-desa dan menjadikan Pamekasan sebagai sentra industri garam,” lanjutnya.

Senada dengan hal itu, Bupati Badrut menyambut baik kerja sama yang terjalin dengan BRSDM KKP. Menurutnya, terdapat hubungan erat antara garam dan riset. “Pamekasan berfokus pada pengembangan di bidang ekonomi, reformasi birokrasi dan infrastruktur. Dengan adanya IPSAL, saya pun berharap Pamekasan menjadi kawasan ekonomi khusus garam,” ujarnya.

Peresmian IPSAL terlaksana dalam rangka proses penetapan kelembagaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Riset Garam milik BRSDM KKP. Pembangunan dimulai dengan pemaparan peran BRSDMKP terhadap Program Nasional Swasembada Garam melalui pembangunan UPT khusus riset garam pada tahun 2010 didepan Wakil Bupati Pamekasan.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Daerah Kabupaten Pamekasan memandang strategis pembangunan tersebut melalui Surat Rekomendasi Bupati Nomor 523/763/441.307/2011 tanggal 26 September 2011 perihal pembentukan UPT Pengembangan Sumber Daya Garam dan Mineral Air Laut serta dukungan hibah lahan seluas kurang lebih 4 ha di Desa Padelegan, Kec. Pademawu, Kab. Pamekasan. IPSAL pun berdiri di atas tanah hibah Pemerintah Kabupaten Pamekasan.

IPSAL memiliki gedung utama yang terdiri dari 2 ruang peneliti; 1 ruang kepala; 1 ruang tata usaha; 1 ruang staff; 1 ruang rapat; guest house; laboratorium uji kadar dan unsur parameter garam beserta mineral-mineral lainnya serta uji sampel garam rakyat (sebagai bahan pendamping uji); gedung pertemuan; bengkel/workshop; serta demplot/lab alam garam tambak seluas 0,5 hektar.

Sementara itu, Loka Riset Sumber Daya Air Laut akan melaksanakan tugasnya melalui: penyusunan rencana program dan anggaran, pemantauan dan evaluasi serta laporan; pelayanan teknis, jasa, informasi, komunikasi dan kerjasama riset; pengelolaan prasarana dan sarana riset; serta pelaksanaan urusan tata usaha, urusan keuangan, urusan kepegawaian, urusan perlengkapan dan rumah tangga serta pelaporan.

“Kami menyadari bahwa mendekatkan dunia riset yang berdampak langsung kepada masyarakat tidaklah mudah. Untuk itu kami berusaha menghadirkan inovasi-inovasi yang sederhana dan dapat diadopsi oleh masyarakat,” tutur Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP) yang membawahi IPSAL, Nia Naelul Hasanah Ridwan.

Dengan fasilitas dan tenaga yang ada, IPSAL siap melayani masyarakat secara langsung dalam bentuk layanan berikut:

1. Pembuatan/perbaikan gratis as baling-baling perahu nelayan. Sudah berjalan pada tahun ke-3 dan masih terbatas pada nelayan sekitar kantor;

2. Pengenalan sistem produksi dan bantuan pembuatan alat produksi garam pasca lahan. Dari sini telah muncul 1 BUM Desa Mutiara Sagara di desa Bunder dan diadopsi 1 BUM Desa Garam berikutnya di Desa Muntok dengan usaha pengolahan garam sistem rekristal. Proses ini berdampak pada munculnya pengusaha-pengusaha pengolah garam lainnya kelas rumahan yang belum teridentifikasi secara detil;

3. Inovasi sederhana pompa air tambak garam sistem sumbu vertikal. Melalui dukungan Bank BNI dibuat 10 unit yang akan ditempatkan dan dikenalkan pada sentra-sentra garam rakyat;

4. Di sisi lingkungan, kami berusaha memperkuat pantai sekitar dengan tumbuhan cemara. Sampai saat ini, 3000 bibit cemara telah tertanam mulai jalan masuk desa, jalan TPI hingga pantai desa Padelegan.

Selain itu, terdapat beberapa karya berupa prototipe mesin pemurnian garam baik sistem mekanis maupun rekristal (spray dryer system), mesin pengolah Bittern (limbah garam) menjadi MgOH dan beberapa paten alat yang siap untuk diterbitkan.