Pemerintah Antisipasi Dampak Ekonomi Penyebaran Virus Korona

oleh -

Jakarta – Ekonomi Indonesia stabil di tengah peningkatan tekanan ekonomi global akibat penyebaran wabah Virus Korona.

Wabah Virus Korona yang meluas di berbagai negara memiliki dampak keekonomian yang perlu diantisipasi oleh seluruh negara termasuk Indonesia. Peristiwa ini diperkirakan berdampak pada perekonomian dunia, terutama pada perekonomian Tiongkok sebagai sumber penyebaran virus.

Beberapa institusi melihat, apabila penyebaran wabah Virus Corona berlangsung cukup lama dan terus menghambat aktivitas ekonomi, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia dapat terus tumbuh melambat.

Tekanan ekonomi Tiongkok berpotensi memberi efek limpasan ke negara-negara mitra termasuk Indonesia melalui beberapa transmisi seperti sektor pariwisata, perdagangan internasional, dan aliran investasi.

Meskipun perhitungan proyeksi masih diliputi ketidakpastian, namun institusi-institusi memperkirakan bahwa dampak pada ekonomi Indonesia tidak sebesar negara-negara lain, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, atau Singapura yang mempunyai hubungan lebih besar terhadap ekonomi Tiongkok.

Dampak Virus Corona sangat terasa pada pergerakan arus orang dari Tiongkok ke Indonesia setelah diberlakukannya larangan penerbangan dari/ke Tiongkok. Pergerakan penumpang masuk asal Tiongkok mencapai puncak di tanggal 25 Januari 2020 dan mengalami penurunan drastis hingga saat ini jumlah penumpang Tiongkok mencapai < 500 orang.

Selanjutnya, untuk mengukur limpasan Virus Corona melalui transmisi perdagangan internasional, perlu dicermati kinerja ekspor impor Indonesia khususnya dengan Tiongkok di awal tahun 2020. Di periode ini, arus barang ke dan dari Tiongkok juga banyak dipengaruhi faktor lain, seperti faktor musiman Hari Raya Imlek.

Dalam mengantisipasi situasi ekonomi global yang diliputi tantangan, termasuk penyebaran Virus Corona yang cepat, pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang antisipatif dan responsif, dengan menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas produktif. Plt.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Arif Baharudin dalam joint press conference Perkembangan Penanganan Dampak Virus Corona (13/02/20) menyebutkan bahwa “pertumbuhan ekonomi kita sangat didukung oleh konsumsi. Sehingga pada kuartal I sudah diarahkan akan ada pendorong konsumsi belanja negara, maka kita bisa mengupayakan untuk mendorong sisi konsumsi rumah tangga.”

Beberapa langkah yang akan diambil adalah sebagai berikut:
Mempercepat realisasi belanja Kementerian/Lembaga, terutama belanja bantuan sosial (seperti PKH dan kesehatan), serta belanja non operasional;

Mendorong pusat-pusat pariwisata melalui berbagai program pendukung, seperti percepatan pembangunan lima destinasi pariwisata super prioritas (Danau Toba, Borobudur, Likupang, Labuan Bajo, dan Mandalika)

Pemerintah juga akan menyiapkan kebijakan fiskal dan non-fiskal untuk menstimulasi sektor pariwisata;

Mendorong dan mempercepat belanja padat karya untuk kegiatan produktif yang menyerap banyak tenaga kerja, seperti belanja infrastruktur di pusat dan daerah;

Mengoptimalkan peran APBN sebagai instrumen yang fleksibel dalam merespon situasi ekonomi (countercyclical) dengan tetap dalam batasan yang aman dan terkendali;

Mempercepat penajaman program Kredit Usaha Rakyat (KUR), termasuk perluasan sasaran.