Pemdes Gedangan : Keluarga bayi Ana, tak punya Kartu Kesehatan.

oleh -
Maisaroh saat menggendong putri keduanya yang terlahir tanpa anus

Jombang: Pemerintah Desa Gedangan Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, angkat bicara terkait persoalan yang menimpa keluarga dari Hariyono dan Maisaroh yang kesulitan biaya guna perawatan dan operasi putrinya yang terlahir tanpa anus.

“Keluarga tersebut memang kondisi perekonomiannya masuk kategori warga tak mampu dan belum mempunyai kartu kesehatan. Hanya sang ayah saja yang punya kartu KIS, yang lainnya belum,” ujar Kepala Desa Gedangan Dedi Kurniadi, saat ditemui diruang kerjanya. Kamis 12 September 2019.

Ia menambahkan, Bahwa Pemerintah Desa telah mengupayakan keluarga pasangan Hariyono (44) dan Maisaroh (30), agar masuk dalam daftar Program Keluarga Harapan (PKH). Serta mengupayakan agar mendapatkan kartu kesehatan dari Dinas Sosial Kabupaten Jombang. Namun hingga empat bulan lebih kartu kesehatan tersebut masih belum didapat.

“Kami sudah meminta pihak Dinsos datang ke desa untuk melihat langsung kondisi pasangan tersebut dan segera dibuatkan kartu kesehatan. Namun hingga empat bulan belum ada kepastian,”Jelasnya.

Masih menurut Dedi, waktu kelahiran si bayi, pihak Pemdes sudah memfasilitasi dan mengupayakan agar seluruh biaya proses kelahiran serta operasi pembuatan lubang buatan di perut gratis.

“Dulu waktu lahiran di RSUD Jombang, kami beserta bidan terkait mengupayakan agar seluruh biayanya gratis, dan Alhamdulillah permintaan kami di terima oleh pihak Rumah Sakit. Tapi untuk biaya hidup sehari – hari yang mereka masih kesulitan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sungguh malang nasib Ana Nur Udaifah, Seorang bayi perempuan asal Dusun Borocilik, Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Ia terlahir tanpa anus. Kondisi perekonomian keluarga yang jauh dari kata cukuďp, membuat bayi mungil tersebut harus menjalani perawatan dirumah dan butuh bantuan dari para dermawan.

Ana yang baru berumur 4,5 bulan merupakan anak kedua dari pasangan Hariyono (44), yang berprofesi sebagai pengamen dengan penghasilan yang tidak menentu, dan Maisaroh (30) yang tidak bekerja karena mengurus kedua anaknya. Dengan penghasilan yang minim, pasangan tersebut tak mampu untuk membiayai operasi buat buah hatinya.