Organ Reproduksi Belum Matang dan Bisa Picu Kanker Serviks

oleh -
Iustrasi Pernikahan

HEBOH pasangan menikah dini di Bantaeng, Sulawesi Selatan sepatutnya tidak dicontoh oleh keluarga lainnya. Karena banyak dampak kesehatan yang bakal dihadapi remaja ketika mereka nikah di bawah usia 21 tahun.

Sayangnya, di sebagian wilayah Indonesia yang menjunjung tinggi adat-istiadat nenek moyang, pernikahan dini masih terjadi. Seperti pasangan remaja SMP Awal Rahman (15) dan Awalia Mar’a (14) yang terlanjur mengadakan pesta pernikahan pekan ini. Alasannya yang dilontarkan sepele, mereka hanya takut tidur sendirian dan memilih untuk menikah. Pasangan belia itu datang ke KUA Bantaeng minta dinikahkan oleh penghulu. Awalnya, permintaan mereka untuk menikah ditolak. Namun, keduanya mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama Bantaeng, lalu dikabulkan.

Terlepas dari itu, biasanya orangtua yang menikahkan anaknya cepat, bisa dianggap lebih mandiri dan jauh dari perbuatan dosa. Padahal dari sisi kesehatan, anak-anak belum siap menikah. Apalagi bagi kaum perempuan yang rentan mendapatkan dampak buruk atas pernikahan yang dilakukan.

Karena melihat dampak seperti itu, pemerintah berkomitmen menghentikan praktik pernikahan dini yang marak terjadi di Tanah Air. Namun, orangtua belum sadar betul dengan dampak tersebut. Mereka tetap menikahkan anaknya meski usianya di bawah 21 tahun.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Yohana Yambise menyebutkan, dampak dari pernikahan anak sangat merugikan perempuan. Mereka yang menikah di usia 10-14 tahun memiliki risiko lima kali lebih besar meninggal dunia akibat kehamilan dan persalinan.

“Anak-anak 10-14 tahun lebih rentan meninggal dunia saat hamil dan bersalin, dibandingkan usia 20-24 tahun. Secara global kematian yang disebabkan oleh kehamilan terjadi pada anak perempuan usia 15-19 tahun,” ujar Menteri Yohana, lewat siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (18/4/2018).

Kalau berhasil melahirkan, terang Menteri Yohana, khawatirnya bayinya mengalami gangguan tumbuh kembang. Bahkan, risiko kematian bayinya sebelum usia satu tahun dua kali lipat, dibandingkan bayi lahir dari rahim ibu yang sudah matang.

Perempuan menikah dini juga harus menerima risiko penyakit kronis. Seperti kanker serviks dan kanker payudara ketika usia beranjak dewasa. Dampak ini tidak dapat dielakkan, bagi mereka yang punya riwayat keluarga dengan penyakit tersebut.

Pemicunya jelas karena organ reproduksi mereka belum matang saat usia remaja. Mereka akhirnya rentan mengidap penyakit kronis di tengah-tengah membangun keluarga. Terlepas dari dampak kesehatan, ada juga risiko gangguan mental dialami oleh anak-anak yang menikah cepat. Mereka masih labil dan perceraian pun rentan terjadi. “Mereka ke depannya bisa hidup dalam keretakan keluarga, karena tidak siap mental dalam membangun keluarga, sehingga menimbulkan perceraian,” pungkas Mama Yo. Sumber OKEZONE