Orang Tua Buta Huruf, Mahfudz Siap Hibahkan Diri Jadi Fasilitas Warga

oleh -
Wakil Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Surabaya Mahfudz
Wakil Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Surabaya Mahfudz

SURABAYA – Banyak wajah baru mengisi kursi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, salah satunya ialah Mahfudz. Berangkat dari keluarga serba pas-pasan, Mahfudz menyatakan siap mengabdikan diri sebagai fasilitator warga Kota Surabaya.

Lewat kendaraan PKB, Dia unggul di Dapil 1 Surabaya dengan 6102 suara. Warga Pucang Surabaya ini segera menginventaris program kerjanya selama kampanye kemarin untuk melayani rakyat. “Ibaratnya saya telah menghibahkan diri saya untuk jadi fasilitas rakyat. Insya Allah bukan ucapan saja, saya minta kawan-kawan mengingatkan saya bila suatu saat lupa,” ujarnya.

Mahfudz merasa bersyukur langsung mendapat hasil positif pada pengalaman pertamanya mencalonkan diri sebagai anggota wakil rakyat. Padahal, dirinya turun dengan besaran logistik kampanye yang jumlah seadanya. Dirinya hanya berbekal keaktifan kegiatan sosial yang beberapa tahun telah dijalani.

Mahfudz tidak pernah bermimpi menjalani hidup menjadi wakil rakyat. Ia tumbuh dari keluarga yang serba pas-pasan. Orang tua yang merupakan perantauan dari Pulau Garam hanya bekerja sebagai penjual bakso keliling. Ayah-ibunya bahkan buta huruf karena tidak tuntas menjalani pendidikan.

Namun, kondisi tersebut menempa Mahfudz menjadi pribadi yang bekerja keras dan tak mudah menyerah. Sulung dari tiga saudara ini pun berhasil mengenyam pendidikan tinggi. Dia berhasil mewujudkan mimpi orang tuanya yang ingin para anak melek huruf dan bekerja mapan.

Mahfudz tak hanya menyelesaikan masa wajib belajarnya hingga SMA. Ia juga turut mengasah ilmu agama di sejumlah pondok pesantren terkenal, yakni Pesantren Tebu Ireng Jombang dan Sukorejo, Situbondo. Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Hasyim Asyari (Unhas) Jurusan Pendidikan.

Bapak tiga anak ini sempat menjadi guru pengajar bahasa inggris, hingga kemudian menjalani pekerjaan di bidang manajemen bisnis. Mahfudz kemudian kembali menempa ilmu pasca sarjana Ekonomi Manajemen di Universitas Dr. Soetomo Surabaya.

Atas ketekunannya, dia menjadi karyawan tetap di sebuah kantor lembaga survei bisnis ternama. Mahfudz kemudian memberanikan diri mendirikan perusahannya sendiri yang bergerak di bidang konstruksi dan perdagangan.

Dari situ dia kemudian mencoba peruntungannya untuk menjadi wakil rakyat di kursi dewan DPRD Kota Surabaya. Hal itu berawal dari pengalaman dirinya sebagai rakyat biasa yang kerap dipinggirkan dan diperas oleh para penguasa yang memiliki jabatan.

Mahfudz pun ingat petuah ayahnya yang terus mendorongnya untuk maju ke DPRD. “Bapak saya bilang, Ibaratnya Negara itu tidak ada yang punya. Tapi Siapa yang bisa mengelola negara. Dia bisa (turut) memiliki suatu negara. Dalam lingkup ini saya di Surabaya,”kenangnya.

Berlaga di pileg 2018 lalu, Mahfudz ibaratnya menjadi calon yang tidak dihitung di PKB Surabaya. Pasalnya, banyak kandidat lain dengan latar belakang politik dan nasab yang jauh lebih berbobot. Apalagi di Dapil 1 yang terdiri dari kawasan Gubeng, Krembangan, Tegalsari, Bubutan, Simokerto dan Genteng. Banyak kandidat yang punya nama besar juga dari dari partai lain.

Namun demikian, Mahfudz bukan pula dewan yang baru di dunia politik. Dia merupakan kader asli PKB yang bergabung sejak 2004. Meski dirinya sempat keluar dari PKB pada 2008, Mahfudz kemudian kembali ke PKB pada 2018 untuk mencalonkan diri sebagai caleg.

Mahfudz berjanji akan bergerak mengawal pembangunan di beberapa titik di pinggiran Surabaya yang masih minim oleh sentuhan pemerintah. “Saya lihat sendiri masih banyak daerah yang tidak terawat dan tersentuh teman-teman dewan. Karena memang beberapa yang jadi dewan bukan penduduk asli di dapil tersebut,” ujarnya. 

Berkat, aktivitasnya yang sering bersosialisasi dengan warga sekitar, Mahfudz telah mencatat beberapa hal yang akan menjadi sasarannya ke depan. Banyak persoalan yang ada di dalam kota Metropolis Surabaya.

“Saya mulai konsolidasi dengan konstituen dan menginventarisasi program-program yang saya canangkan saat kampanye,” tegasnya.

Dia mengaku, ingin mendapat posisi sebagai anggota Komisi C yang membidangi Pembangunan. Pasalnya, dia prihatin dengan kondisi beberapa warga dengan lingkungan yang kumuh dan tidak memiliki sanitasi yang layak. 

“Komisi saya lebih tertarik di C. Cuma ini tergantung partai. Saya siap dimana saja. Terpenting ada manfaat buat masyarakat,” ujarnya.

“Masih banyak daerah kumuh, dan tidak ada MCK yng layak. Banyak di kampung-kampung itu. Jadi jangan lihat di jalan besarnya saja di Surabaya,” ujar Mahfudz.

Meski sebagai wajah baru di kursi dewan, Mahfudz pun sudah siap beradaptasi. Termasuk dengan anggota dewan yang lebih dulu menjabat. Dia berniat bekerja untuk kepentingan rakyat. “Saya menempatkan diri saja, gimana mereka tidak merasa terganggu. Saya nggak mau neko-neko karena memiliki tanggung jawab atas keluarga besar dan karyawan saya,” pungkasnya.

Oleh : Phaksy Brewok