Merasa Di Ancam, Sekdes Banyuarang Jombang Laporkan Warganya

oleh -

JOMBANG- Nasrudin Abid, Sekretaris Desa (Sekdes) Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, terpaksa melaporkan salah satu warganya ke Polisi, Kamis (08/08/2019).

Tindakan pelaporan tersebut bukan tanpa alasan, ia merasa mendapatkan ancaman dari warganya yang berinisial (AM), yang tak lain adalah orang tua dari (AF), Kepala Dusun Banyuarang, Kecamatan Ngoro.

Laporan tersebut dilakukan pada 29 Juli 2019 lalu. Dengan didampingi sejumlah kerabatnya Sekdes Banyuarang mendatangi SPKT Polres Jombang. Dalam laporannya, dia mengaku diancam oleh (AM) saat berada di Kantor Inspektorat Kabupaten Jombang, seminggu lalu.

Kejadian bermula ketika, Nasrudin dan (AM) mendatangi Kantor Inspektorat dalam rangka memenuhi panggilan untuk agenda kesaksian atas kasus dugaan tindak pidana asusila yang menjerat Kasun (AF).

Saat proses pemeriksaan antara keduanya dilakukan secara terpisah didua ruangan berbeda oleh masing – masing petugas. Nasrudin sendiri diperiksa kesaksiannya sebagai aparatur desa yang saat itu menerima secara langsung surat pengunduran diri Kasun (AF).

Usai berikan keterangannya kepada petugas, selanjutnya Nasrudin dipertemukan dengan (AM) guna kepentingan klarifikasi. Keduanya lantas bertemu disatu ruangan yang sama bersama tiga orang petugas Inspektorat.

Ditengah proses konfirmasi, Nasrudin mengaku dimaki-maki oleh (AM) dengan berbagai macam kata-kata kotor yang dinilainya sangat tidak etis. Bahkan, dia juga mengaku diancam oleh terlapor. Sehingga hal ini dinilai cukup meresahkan dan mengancam jiwanya.

“Saya dimaki – maki, di umpat dengan kata – kata yang tak baik seperti, goblok, gila dan banyak lagi. Yang paling membuat saya geram, saya diancam dengan kata -kata gini ‘awas kalau kamu pulang dari sini mati kamu’ seperti itu,” ucap Nasrudin.

Sampai saat ini, Nasrudin tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab dirinya mendapat makian dan ancaman dari (AM). Sedangkan, kedatangan Nasrudin ke Polres Jombang hari ini, untuk menanyakan perkembangan dari laporannya pada minggu lalu. Ia berharap Polisi segera memproses kasus tersebut.

Saat disinggung mengenai barang bukti apa saja yang dilampirkan, dia mengaku belum bisa membeberkannya. Hanya saja, dia akan meminta kesaksian petugas Inspektorat yang kebetulan saat kejadian menyaksikan secara langsung apa yang dia alami.

“Pas kejadian mau saya rekam, tapi dilarang oleh petugas Inspektorat. Waktu itu ada tiga orang, kemudian saya diminta untuk tenang dan menahan diri, tapi nanti jika diperlukan saya akan meminta kesaksikan beliau,” tegasnya.

“Saya lakukan ini supaya jadi pembelajaran buat yang lainnya. Agar kalau ada agenda pemeriksaan di Inspektorat harusnya yang sopan , dihadapi secara diplomatis bahasanya, saya kan jadi khawatir kalau sekarang mau kemana – mana,” imbuhnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP. Azi Pratas Guspitu sejauh ini belum mengetahui laporan kasus dugaan pencemaran nama baik dan ancaman yang dialami Sekdes Banyuarang ini.

Namun, dia memastikan akan melakukan proses hukum sesuai dengan undang – undang yang berlaku jika mendapat laporan masyarakat seperti kasus tersebut.

“Berkasnya belum masuk ke saya, saya akan cek dulu. Yang jelas semua laporan masyarakat akan kami proses sesuai dengan hukum yang berlaku,” tuturnya saat di konfirmasi melalui ponselnya.

Sementara, lanjut Nasrudin, peristiwa tersebut bermula saat (AF), Kepala Dusun Banyuarang terjerat sebuah kasus. Dia diduga melakukan tindak pidana asusila terhadap salah satu warganya.

Kasus ini sempat mengundang perhatian masyarakat setempat hingga seluruh pihak yang terkait melakukan upaya guna mencari jalan keluar. Yang akhirnya (AF) mengakui semua perbuatannya dan akhirnya berinisiatif mengundurkan diri dari jabatanya.

Kepala Dusun tersebut kemudian membuat surat pernyataan pengunduran dirinya secara sukarela dan diserahkan secara langsung kepada Sekdes Nasrudin.

“Saya selaku Sekdes hanya menerima surat pengunduran diri itu, kemudian saya tanda tangani secara administratif. Saya sebagai Sekdes juga sebagai penerima, itu saja. Sedangkan surat itu dia buat sendiri tanpa paksaan siapapun,” pungkasnya.