Mendikbud Tinjau Sekolah Terdampak Bencana Banjir Madiun

oleh -

MADIUN – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) memprioritaskan perbaikan fasilitas belajar bagi sekolah dan peserta didik terdampak bencana banjir di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Fasilitas belajar merupakan kerusakan yang paling banyak terjadi pada banjir bandang di Madiun pada 5 Maret 2019. Madiun merupakan wilayah terdampak bencana banjir bandang terparah dari 15 kabupaten yang terdampak banjir di Provinsi Jawa Timur. Terdapat delapan kecamatan yang terendam banjir, meliputi Kecamatan Madiun, Saradan, Pilangkenceng, Balerejo, Sawahan, Mejayan, Wungu, dan Wonosari.

“Sekolah-sekolah memang ada kerusakan tapi tidak fatal, atau hanya mengalami kerusakan ringan,” jelas Menteri Muhadjir di sela-sela tinjauan daerah terdampak banjir di Kecamatan Balurejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Kerusakan itu, lanjut Muhadjir mencakup fasilitas sekolah, buku-buku perpustakaan, alat elektronik, komputer, dan alat musik. “Nanti dari pemerintah pusat akan ada bantuan, akan kita rumuskan terlebih dahulu, kerja sama akan dilakukan dengan kabupaten untuk jenjang SD dan SMP,” jelasnya.

Oleh karena itu, Menteri Muhadjir tidak merencanakan untuk memberlakukan dispensasi untuk penyelenggaraan ujian bagi para siswa. Sebagai informasi, bencana banjir terjadi bertepatan saat para siswa sedang mengikuti ujian, dan latihan ujian untuk persiapan ujian tingkat nasional atau try out.

“Kelas 3 SMP tidak diberi dispensasi ujian, tidak perlu kayaknya karena mereka bisa menyesuaikan diri, termasuk memberikan bahan bantuan untuk ujian sekolah,” jelas Menteri Muhadjir.

Data lembaga pendidikan yang terkena bencana lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun per 6 Maret 2019 mencatatkan terdapat sebanyak 33 satuan pendidikan terdampak bencana. Sekolah ini terdiri atas 22 SD, sembilan TK, dan dua Sekolah Menengah Pertama Negeri.

Saat peninjauan, Sodik Hery Purnomo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, mengungkapkan banjir mengakibatkan kerusakan fasilitas belajar. “Kerusakan akibat banjir mencakup fasilitas kegiatan belajar mengajar dari masing-masing sekolah, seperti komputer, buku, alat musik,” ujar Sodik.

Oleh karena itu, Sodik melanjutkan, banjir tidak menghentikan siswa untuk belajar, bahkan tetap mengikuti ujian umum bersama dan ujian tengah bagi jenjang Sekolah Menengah Pertama. Ke depan, Sodik menjelaskan bahwa secara individual para siswa pun kehilangan kebutuhan bersekolah sehari-hari, seperti seragam, buku.

Mendikbud menekankan perlunya pengajaran mitigasi bencana di tingkat kabupaten. Pengajaran ini sebagai langkah preventif jangka panjang untuk penanganan bencana di masing-masing daerah. “Pengajaran ini saya anjurkan Bapak Bupati untuk memasukkan kurikulum pengajaran mitigasi penangananan banjir,” jelas Mendikbud.

Pengajaran mitigasi bencana merupakan bagian dari pendidikan karakter di sekolah-sekolah di Indonesia. Pelaksanaannya bekerjasama dengan kementerian terkait untuk mengajar kebencanaan dengan integratif di luar kurikulum jam sekolah.

“Di sekolah itu ada delapan jam, ada sisa waktu selain intrakurikuler, ada sisa waktu sebetulnya untuk mitigasi, itu bisa diterapkan di sekolah. mereka bisa diberikan materi di luar kelas yang sifatnya menggembirakan tidak menjemukan,” ujar Mendikbud.

Untuk pengajar, lanjut Mendikbud, terdapat pengajar dari Kementerian Sosial untuk mengajar penanganan bencana. Pendidikan mitigasi ini, lanjut Mendikbud, dapat dilaksanakan di luar mata pelajaran. pendidikan ini berlangsung di semua jenjang bahkan hingga ke perguruan tinggi.

Materi pengajaran pendidikan mitigasi menyesuaikan dengan potensi bencana dari wilayah bersangkutan. Sehingga, para peserta didik mendapatkan bekal kebencanaan menyesuaikan dengan potensi bencana di wilayah masing-masing.

“Ini akan terus kita galakkan di tingkat nasional, dan ini masing-masing sekolah akan diberi materi mengenai kebencanaan terutama yang memang dialami atau berpotensi dialami di tempat itu. Kalau ada wilayah potensial banjir ya diajari mitigasi bencana banjir, kalau di wilayah gempa ya akan diajari mitigasi bencana gempa, menyelamatkan diri dan melindungi diri dari gempa, erupsi gunung berapi akan diajari untuk mitigasinya. nanti akan diajari secara spesifik menurut bencana yang berpeluang,” ujar Muhadjir.

Rute peninjauan lokasi terdampak banjir di Kabupaten Madiun oleh Mendikbud mencakup Posko Utama kantor Kecamatan Balerejo, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 01 Balerejo, TK/Sekolah Dasar Glonggong, TK/SD Jerukgulung 01, TK/SD Warurejo, TK/SD Babadan Lor 01, SD Purworejo, Sekolah Menengah Kejuruan Pendidikan Guru Republik Indonesia (SMK PGRI) Mejayan. Rangkaian agenda peninjauan berlangsung selama tiga hari yaitu dari Senin hingga Rabu (11-13 Maret 2019).