Menakar Populisme Islam dalam ‘Pertarungan’ Pilpres 2019

oleh -
Ilustrasi Pilpres 2019

JAKARTA-Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah membuka pendaftaran bakal calon presiden dan wakil presiden. Pendaftaran ini dibuka hingga 10 Agustus 2018 mendatang. Namun,  hingga saat ini belum ada pasangan yang mendaftar. Sementara itu, di bagian lain, manuver-manuver telah terjadi hingga munculnya polpulisme islam dalam pertarungan  pilpres nanti.

Munculnya Populisme Islam telah merambah ke dalam dinamika politik nasional dan telah mengkristal menjadi sebuah kekuatan politik baru yang telah menemukan momentumnya  dalam pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 lalu. Populisme Islam yang menjelma menjadi salah satu kekuatan politik, kini juga ikut memainkan peranan yang cukup  strategis dalam rangka menggalang kekuatan untuk mendukung atau tidak terhadap poros koalisi yang sudah terbentuk, Ijtima Ulama, GNPF 212 sebagai aksi nyata dari  gerakan ini.

Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menyatakan, populisme islam ini membuat sejumlah kandidat harus mengutak-atik puzzle dan membuat kalkulasi siapa yang diusung  agar menang dalam Pilpres 2019 mendatang. Poros koalisi Gerindra-Demokrat-PKS dan PAN harus melakukan perhitungan yang sangat cermat dan tepat agar tak kalah,  menyiapkan lawan tanding yang sebanding dengan poros Jokowi sebagai “juara bertahan” yang dalam berbagai kalkulasi dan jajak pendapat lembaga survei sampai saat ini  masih unggul.

Dari isu Populisme islam inilah kemudian sejumlah nama yang dipasangkan ke Prabowo Subianto yang notabene sebagai penantang Jokowi dalam pertarungan Pilpres 2019  mendatang. Sebelumnya, mencuat nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) namun belakangan muncul nama Salim Segaf Al-Jufri dan Ustad Abdul Somad (UAS).

“Paket mana yang dikeluarkan sebagai hasil rekomendasi dari Ijtima’ ulama GNPF yakni Salim Segaf Al-Jufri dan Ustad Abdul Somad (UAS) adalah dua nama yang punya basis  massa dan dukungan kuat di akar rumput. Salim Segaf Al-Jufri adalah Ketua Majelis Syura PKS, mantan menteri Sosial era SBY dan juga pernah menjadi duta besar RI untuk  Arab Saudi dan Oman,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting saat dihubungi, Sabtu (4/8/2018).

Salim Segaf Al-Jufri juga keturunan ulama besar Palu Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau lebih dikenal dengan nama “Guru Tua ” pendiri yayasan Al-Khairaat. Dia juga  masih punya garis hubungan sangat dekat dengan Habaib dan juga dekat dengan kiyai NU, dan tokoh Muhammadiyah, cenderung lebih moderat dan mampu berkomunikasi dengan  semua kelompok dan kekuatan Islam mana pun.

Oleh karena itu, penerimaan (akseptabel) terhadap sosok ini cukup luas sehingga upaya menyatukan kekuatan Islam yang menjadi agenda politik dikalangan umat Islam akan  menemukan momentum yang tepat dan kian nyata. “Sentimen publik dan tren politik yang sedang melanda negara-negara muslim di seluruh dunia-termasuk Indonesia- hari ini  adalah dengan menguatnya semangat (ghirah) gelombang “Populisme Islam”, sebagai varian dari populisme politik yang juga berkembang di negara-negara Barat dan juga  telah sampai berkembang di Indonesia,” jelasnya.

Rekomendasi dari ulama yang tergabung dalam GNPF ini menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi Prabowo, jika ingin memenangkan pilpres 2019 dengan dukungan kuat  dari kalangan Islam dibandingkan dengan mengambil nama lain dari kalangan nasionalis seperti AHY.

Kata Pangi, AHY masih sulit representasi (afialiasi) mengambil suara ulama. Representasi Ulama faktor determinan menentukan dalam kemenangan di Pilpres 2019 nanti. Di  saat menguatnya sintemen popolisme Islam, maka Prabowo-AHY kombinasi yang kurang menjual dan kurang tepat, karena sama-sama militer, sama-sama nasionalis, ceruk  segmen Prabowo-AHY juga sama irisannya. “Kita bisa bayangkan dan mudah memprediksi (forecast) simulasi pertarungan peta lama misalnya Prabowo-AHY berhadapan dengan  Jokowi-Mahfud MD. Sebaliknya akan keras benturan pertarungan dan sulit diprediksi apabila Prabowo-Salim Segaf head to head dengan Jokowi-Ma’ruf Amin,” jelasnya.

Isu Populisme Islam juga terjadi di poros Jokowi. Petahana ini juga melakukan upaya serius dalam merangkul kalangan islam dengan pendekatan intensif kapada para Ulama, Santri, Cendikiawan Muslim dan Ormas Islam. Jokowi ingin mengambil posisi tidak berseberangan dengan kekuatan Islam, sehingga perlahan tapi pasti Jokowi sudah berhasil memperluas basis dungannya yang tidak hanya dari kalangan ceruk segmentasi nasionalis. Jika ini tidak dibaca dengan cermat oleh kubu Prabowo maka peluang Jokowi untuk kembali memenangkan pilpres semakin terbuka lebar.

Oleh karena itu, dari beberapa pertimbangan di atas maka kombinasi Nasionalis-Religius sepertinya akan menghiasi persaingan dan kompetisi dalam pilpres 2019 mendatang.
Pasangan Prabowo-Salim Segaf Al-Jufri akan menjadi lawan tanding yang sebanding, cukup keras dan sengit ujung kompetisinya. Artinya cukup merepotkan dan menyulitkan  ruang gerak Jokowi dan pasangannya.

“Itu bukan berarti Jokowi tak punya nama Cawapres yang cukup diperhitungkan, ada banyak nama seperti Ma’ruf Amin yang merupakan ketua MUI dan juga dekat dengan kalangan NU, ada juga nama seperti Mahfud MD dan TGB yang juga punya basis yang cukup kuat dan diperhitungkan dikalangan Islam,” pungkasnya. @VIN