LIPI Olah Limbah Tahu Jadi Sumber Energi Baru, Begini Cara Kerjanya

oleh -

INDUSTRI tahu merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah organik berupa limbah padat dan limbah cair.

Limbah cair tahu mempunyai pH rendah, berkisar di angka 4-5 di bawah ambang batas normal 7, dan mempunyai senyawa-senyawa terlarut yang apabila langsung dibuang dapat mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar. Selain itu, limbah cair tahu mempunyai bau busuk yang menyengat.

Hal tersebut memunculkan inisiatif LIPI untuk memberikan solusi pengolahan limbah tahu secara anaerobik yang mampu menghasilkan energi alternatif berupa biogas di sentra industri tahu di dusun Giriharja, Sumedang, Jawa Barat.

Menurut peneliti bidang pengolahan limbah dan pencemaran lingkungan LPTB LIPI, Neni Sintawardani, pengolahan limbah cair tahu dilakukan dengan mekanisme anaerobik.

“Limbah diproses dengan mekanisme anaerobik di mana mikroba tidak bisa hidup bila ada udara sehingga harus tertutup. Limbah tahu yang punya kandungan organik tinggi akan diuraikan oleh mikroba menjadi metana dan karbon dioksida atau yang dikenal sebagai energi biogas,” jelas Neni melalui siaran pers yang diterima Kabarjatim.com

LIPI juga membenahi sistem pengaliran air limbah di pabrik tahu sehingga dapat memisahkan limbah cair pekat dengan limbah cair encer.

Dengan kapasitas produksi tahu mencapai 3 ton kedelai per hari dari 9 pengrajin tahu, IPAL Anaerobik ini mampu memproses limbah cair pekat sebanyak 24 meter kubik per hari. Dari situ dapat dihasilkan biogas 300 meter kubik per hari yang disalurkan ke 89 rumah tangga di Giriharja untuk kebutuhan memasak.

Pengelolaan IPAL Anaerobik ini akan dijalankan secara mandiri oleh warga Giriharja yg diharapkan bisa menambah nilai guna dari unit tersebut. Proyek penelitian dan pengembangan IPAL Anaerobik ini merupakan kerjasama LIPI melalui Loka Penelitian Teknologi Bersih dan Nanyang Technological University, Singapura.