Kyai Ma’ruf: Kader NU tak Pilih Kader NU, Innalillahi…

oleh -

SUMENEP – Calon Wakil Presiden Republik Indonesia nomor urut 01, Ma’ruf Amin menyambangi Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep. Dalam kesempatan tersebut, Ma’ruf mengisi kegiatan Ngaji Bareng Ijazah Shahih Bukhari.

Ribuan masyarakat dengan memakai baju serba putih tampak menghadiri kegiatan tersebut. Selain itu, para santri Nahdlatul Ulama (NU) juga tampak berdesakan duduk dengan ribuan jamaah.

Dalam kesempatan itu pula, Ma’ruf menyampaikan bahwa kader NU tetap dan wajib tekun dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain itu, juga disampaikan bahwa banyak golongan-golongan diluar NU yang sedang mengoyak Indonesia dengan jihadnya. Padahal, jihad yang sesungguhnya adalah menjaga NKRI itu sendiri.

“Resolusi jihad itu sebenarnya sudah ada pada 1945 (di Indonesia), tapi pada waktu itu sebagai perlawanan kepada para penjajah. Semua orang pasti ingat dengan peristiwa 10 Nopember,” katanya saat mengisi acara.

Ma’ruf juga menyinggung soal akhir-akhir ini hubungan negara dan agama seringkali dipertentangkan. Antara memelihara negara (himayatud daulah) dan menjaga agama (himayatud din) kadang dipandangnya secara dikotomis.

“Menjaga negara dan menjaga agama ini merupakan keharusan bagi semua kader NU. Indonesia negeriku, siapa datang mengancammu kan binasa dibawah durimu. Karena akan berlawanan dengan para santri NU,” terangnya.

Oleh karenanya, lanjut Ma’ruf, kader NU sudah sepatutnya mendukung yang sama-sama beraliran NU. “Kader NU yang tidak mendukung kader NU, Innalillah…,” tegasnya disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.

Ma’ruf juga menghimbau agar para santri NU ikut membentengi terhadap kabar bohong (hoax), fitnah hingga penekanan-penekanan yang dilakukan hanya untuk mengusai Indonesia.

“Jadi kita tidak akan mendukung siapapun pemimpin yang berbahaya dan menekan NU di Indonesia. Melalui cara apapun. NKRI harga mati, shalawat sampai mati, taubat sebelum mati,” tandasnya.

Sementara, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Mohammad Salahuddin Warits menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua hadirin yang hadir dalam kesempatan itu.

Ia juga menyampaikan bahwa NU di Sumenep mulanya berada di Kecamatan Guluk-guluk. “Teringat dawuh almarhum Kyai Basyir As, Pola NU itu berasal dari Guluk-guluk,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dihadiri pula putri almarhum Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, KH. Ahmad Nawawi Abdul Jalil, dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, KH. Moh. Zuhri Zaini.

Editor.  :  Rusmiyanto