KOMPAK Protes Program Nata Kota Bangun Desa Pemkab Sumenep

oleh -
Foto : Musyfiq/kabarjatim
Foto : Musyfiq/kabarjatim

SUMENEP – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Anti Korupsi (Kompak) melakukan demonstrasi didepan Kantor Pemkab Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Hal itu dilakukan dalam rangka mengkritisi program Nata Kota Bangun Desa yang merupakan janji politik Bupati dan Wakil Bupati Sumenep.

Dalam aksi tersebut, massa sempat bentrok dengan pihak keamanan. Aksi saling dorong juga sempat terjadi mengingat orang yang mereka kritisi itu tak kunjung menemui.

Namun, selang beberapa saat pihak Sekretariat Pemkab Sumenep meminta perwakilan massa aksi untuk beraudiensi diruang Adirasa.

Saat beraudiensi, massa aksi ditemui oleh pihak Setkab Sumenep Bidang Pemerintahan, Carto. Awalnya, perwakilan mahasiswa itu sempat tidak mau karena hanya diwakili oleh Carto. Sebab tujuan mereka adalah Bupati dan Wakil Bupati.

Ketua Kompak, Imam Arifin mengaku kedatangan mereka tak lain adalah untuk menyampaikan beberapa fakta dilapangan soal program Bangun Desa Nata Kota yang dinilai kurang maksimal.

Selain itu, banyaknya pimpinan organisasi perangkat daerah yang kurang mumpuni, dinilai Imam harus segera dipecat.

“Kami menuntut agar dinas yang sudah tidak produktif segera mundur. Yang kedua menuntut pembangunan pedesaan menjadi prioritas utama. Jadi tidak hanya berpangku ke Nata Kota saja. Nata Desa juga harus dipandang,” terangnya, Selasa (8/1/2018).

Menurut Imam, pemerintah terlalu sibuk dengan keadaan diperkotaan. Sementara dipedesaan banyak yang ditinggalkan. Seperti banyaknya infrastruktur yang tidak layak, tingkat kemiskinan semakin meningkat hingga banyak rumah warga yang ditempati itu tidak layak huni.

“Jadi untuk apa ada program Bangun Desa Nata Kota kalau misalkan hal-hal seperti ini saja sudah tidak mampu,” tudingnya.

Terpisah, Setkab Sumenep Bagian Pemerintahan, Carto yang menemui massa aksi mengaku pemerintah akan terus melakukan hal yang terbaik untuk membangun Sumenep berkelanjutan.

Selain itu, program Bangun Desa Nata Kota bukan hanya fokus pada satu titik saja. Melainkan ada sembilan pokok yang harus dikembangkan dan dibangun untuk menyelaraskan dengan program tersebut.

“Pemerintah itu tidak mungkin menyelesaikan semua masalah yang ada di Sumenep dalam waktu yang singkat. Apalagi kami itu tidak hanya fokus pada satu titik saja. Seperti pendidikan, kewirausahaan, wisata dan sebagainya. Jadi bukan infrastruktur saja,” terangnya.

Sementara disinggung soal pimpinan OPD yang dinilai kurang produktif dalam mengemban amanah, Carto mengaku hal itu bukan bidangnya.

“Untuk itu bidang BKD (Badan Kepegawaian). Cuma yang jelas semua tuntutan mahasiswa ini akan kami sampaikan,” tandasnya. @VIN