Kerusuhan Rasial, PBNU: Demokrasi Amerika Tengah Sekarat

oleh -

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras aksi rasisme di Amerika Serikat yang merengut korban jiwa dan memicu kerusuhan massal. Insiden ini menunjukkan Amerika gagal menerapkan nilai-nilai demokrasi.

“Demokrasi Amerika tengah sekarat karena menghasilkan pemimpin konservatif yang menyeret demokrasi ke titik anti-klimaks dengan retorika-retorika politik liberal yang selama ini dimusuhinya,” ujar Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA melalui siaran pers yang diterima Kabarjatim.com, Minggu (7/6/2020).

Kematian lelaki kulit hitam George Floyd setelah lehernya dicekik polisi Minneapolis, Derek Chauvin, dengan lutut pada Senin, 25 Mei 2020, memicu kemarahan publik, karena bernuansa rasial dan tidak manusiawi. Meski Chauvin dan tiga polisi lainnya yang terlibat dalam kasus ini telah dipecat dan dikenai dakwaan namun gelombang kemarahan publik sudah terlanjur membesar.

Tercatat 13 orang tewas dan lebih dari 10.000 orang lainnya ditangkap sejak protes atas kematian George Floyd berkobar di seluruh wilayah Amerika. Demo yang diwarnai kerusuhan dan penjarahan terus berlanjut hingga saat ini. Aksi protes juga bermunculan di berbagai Negara lain.

Tragedi yang menimpa Floyd, menurut KH. Said Aqil Siroj, tak lepas dari sikap Donald Trump. Kampanye ‘hitam’ Trump di musim kampanye Pilpres AS yang rasis, yang menunjukkan sentimen negatif terhadap imigran kulit warna dan kaum Muslim, telah menabung bara api yang meledak dalam kerusuhan rasial sekarang. Alhasil, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika ke-45 telah menguak borok demokrasi Amerika yang selama ini tampil bak ‘polisi’ demokrasi dunia.

“Perubahan haluan yang drastis dari Presiden yang diusung Partai Demokrat (Obama) ke Presiden yang diusung Partai Republik (Trump) menunjukkan fondasi demokrasi Amerika tidak sekokoh seperti yang didengung-dengungkan,” ujarnya.

Kiai Said menambahkan, diskriminasi rasial dan kesenjangan ekonomi telah menjadi cacat bawaan seperti telah disinggung oleh Gunnar Myrdal sejak 1944 dalam bukunya An American Dilemma. Demokrasi Amerika akan terus dihantui oleh pertarungan abadi antara ide persamaan hak dan prasangka rasial.

Keyakinan Myrdal bahwa pada akhirnya demokrasi akan menang atas rasisme tidak terbukti sampai sekarang. Diskriminasi atas warga Afro-Amerika telah memicu kerusuhan rasial yang terus berulang hingga 11 kali dalam setengah abad sejak 1965.

Keadilan, persamaan hak, pemerataan, dan perlakuan tanpa diskriminasi terhadap seluruh kelompok masyarakat merupakan nilai-nilai demokrasi yang gagal dicontohkan Amerika. Standar ganda yang sering digunakan Amerika dalam isu HAM, perdagangan bebas, dan terorisme menunjukkan wajah bopeng demokrasi yang tidak patut ditiru.

Dalam kaitan ini, Kiai Said menegaskan Nahdlatul Ulama (NU) memandang bahwa demokrasi masih merupakan sistem terbaik yang sejalan dengan konsep syûrâ di dalam Islam. Namun, NU menolak penyeragaman demokrasi liberal ala Amerika sebagai satu-satunya sistem terbaik untuk mengatur negara dan pemerintahan.

Indonesia tidak perlu membebek Amerika dan negara manapun untuk membangun demokrasi yang selaras dengan jati diri dan karakter bangsa Indonesia. Demokrasi yang perlu dibangun tetap harus berlandaskan pada prinsip musyawarah-mufakat dalam politik dan gotong royong dalam ekonomi. Demokrasi yang sejalan dengan penguatan cita politik sebagai bangsa yang nasionalis-religius dan religius-nasionalis.

“Nahdlatul Ulama memandang bahwa kejadian kerusuhan rasial di Amerika saat ini perlu menjadi bahan refleksi serius agar peristiwa serupa tidak terulang di negara mana pun,” pungkasnya.