Kerjasama dengan OKI, BPOM Jalankan Diplomasi Global

oleh -

JAKARTA – Kerjasama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) merupakan salah satu bentuk diplomasi global untuk memberikan kontribusi kepada bangsa-bangsa lain khususnya di bidang kesehatan (health security).

Sebagai negara yang unggul di bidang vaksin dan obat, Indonesia berkewajiban memberikan sumbangsih kepada negara-negara OKI yang punya masalah dengan pengadaan vaksin dan obat berkualitas.

Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat kebijakan publik Riant Nugroho saat menanggapi pertemuan dengan Kepala Otoritas Regulatori Obat (National Medicine Regulatry Authorities/NMRAs) dari negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berlangsung pada 20 hingga 22 November kemarin.

Menurut Direktur Institute for Policy Reform ini, kerjasama vaksin bertujuan untuk memastikan penyakit-penyakit berbahaya seperti pandemik tidak muncul di berbagai belahan dunia, khususnya negara anggota OKI. Apalagi Indonesia memproduksi banyak jenis vaksin yang cocok untuk penyakit-penyakit tropis di negara-negara berkembang.

“Meski demikian, prioritas tetap kepada kebutuhan dalam negeri. Jangan sampai kita kekurangan vaksin lalu kita ekspor ke luar negeri. Ekspor haruslah bersumber dari kelebihan kapasitas. Konstitusi mengamanahkan kita untuk menjadi warga negara dunia yang peduli dan berkontribusi, dengan tidak mengabaikan anak-anak bangsa sebagai priotas utama,” tutur pengajar Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia ini.

Ia sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Kepala BPOM bahwa kegiatan ini merupakan kerjasama kemitraan kemanusiaan dan bukan sekedar kerjasama keekonomian atau keuntungan.

“Dalam konteks perluasan pasar ekspor vaksin, kita mengapresiasi kerjasama ini. Namun keuntungan ekonomi adalah konsekuensi logis dari kerjasama kemanusiaan, yang secara langsung berdampak pada keeratan hubungan antara Indonesia dan OKI. Dan ini adalah hubungan yang egaliter, yang saling mendukung,” ujarnya.

Riant menambahkan bahwa konsep kerjasama BPOM dan OKI ini sesuai dengan pola yang pernah diajarkan Presiden Soekarno bahwa Indonesia harus menolong bangsa-bangsa lain yang masih kekurangan.

“Selain OKI, kita bisa kerjasama misalnya dengan negara-negara Afrika dan Asia Selatan. Bukan dengan Eropa yang memang sudah berkecukupan. Fokusnya pada negara-negara yang masih kekurangan. Jadi Indonesia itu seperti kota yang bersinar di atas bukit dan sinarnya menerangi kota-kota lain di bawahnya,” ungkapnya.

Dalam waktu kurang dari lima tahun, tambah Riant lagi, Indonesia bisa menjadi negara yang tidak saja besar secara ekonomi namun juga besar dalam hal kontribusi sosialnya kepada masalah-masalah dunia.

“Seperti dulu, ketika kita dihormati tidak saja karena menjadi negara dengan PDB terbesar kelima di dunia, tetapi karena kepedulian Indonesia terhadap berbagai masalah yang dihadapi dunia khususnya di bidang kesehatan,” ulasnya.