Kementan Bidani Lahirnya Petani Generasi Milenial

oleh -

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya melahirkan petani muda generasi milenial.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Momon Rusmono menyebutkan sebagai bagian dari komitmen melahirkan petani muda generasi milenial, Kementan mentransformasi Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan).

“STPP yang awalnya hanya berorientasi menghasilkan penyuluh pertanian saja, namun kini menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) ditujukan untuk menghasilkan job creator (wirausahawan bidang pertanian) dan job seeker (bekerja di sektor pertanian),” ungkap Momon saat menjadi pembicara dalam acara “Bincang Asyik Pertanian Indonesia (BAKPIA) di Kantor Pusat Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan.

Menurut Momon, minat milenial pun meningkat 12 kali lipat atau 1.237 % yaitu dari 980 pendaftar di tahun 2013 menjadi 13.111 pendaftar di Polbangtan pada tahun 2018.

“Peningkatan signifikan ini terlihat dari total 977 lulusan sejak 2011-2014 menjadi 2.026 lulusan yang tercatat dari tahun 2015-2018 di Sekolah tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) yang kini bertransformasi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan),” papar Momon.

Lebih lanjut, Momon menyebutkan kewirausahaan milenial petani pun meningkat hingga 103% dari 500 kelompok Pengembangan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) di tahun 2016 menjadi 1.013 kelompok PWMP di 2018.

“Kementan berhasil mencetak milyarder-milyarder tani millenial seperti kelompok PWMP Utami Super Broiler dari timur Indonesia yaitu Manokwari Papua yang berhasil mengembangkan usaha mereka hingga mencapai omzet Rp.1,5 Miliar dalam jangka waktu 1 tahun,” terangnya.

Tak hanya pendidikan, peningkatan signifikan juga terjadi pada capaian kegiatan pelatihan SDM pertanian. Momon menyebutkan bahwa terjadi peningkatan signifikan hingga 344 % dari 25.108 tenaga pada tahun 2011 – 2014 menjadi total 111.702 tenaga terlatih pada tahun 2018. Tenaga SDM Pertanian profesional yang tersertifikasi juga meningkat tajam hingga 274% dari 2.380 orang pada tahun 2014 kini menjadi 8.905 orang selama rentang waktu 2015-2018.

“Perubahan signifikan ini dikarenakan Kementan meningkatkan sertifikasi kompetensi dari hanya 3 sertifikasi kompentensi menjadi 21 sertifikasi kompetensi di tahun 2015-2018,” tuturnya.

Dari sisi penyuluhan, disebut Momon, terdapat 75,8% kenaikan pada penambahan dan pengembangan kelompok tani (poktan) hingga berjumlah 566.680 pada tahun 2018 dibanding tahun 2014 yang hanya berjumlah 322.390 Poktam.

Pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) juga terjadi peningkatan dari 37.635 Gapoktan di tahun 2014 menjadi 63.435 di tahun 2018 atau terjadi peningkatan hingga 68,6%. “Begitu juga dengan jumlah Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) sampai tahun 2018 telah mencapai 13.183 unit KEP,” tutup Momon.