Kemarau Panjang, Warga Bareng Gelar Ritual ‘Mandi Kucing’

oleh -
Prosesi Ritual Saat Kucing Dimandikan Degan Air Dawet (Aan/Kabarjatim)
Prosesi Ritual Saat Kucing Dimandikan Degan Air Dawet (Aan/Kabarjatim)

JOMBANG-Akibat musim kemarau yang panjang, membuat warga Dusun Banjarsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng menggelar ritual tradisional yakni mandi kucing. Ritual ini warga berkumpul memandikan kucing dengan air dawet.

Ritual ini disebut dengan barik’an papak sumber, yaitu bertujuan untuk meminta berkah kepada Yang Maha Kuasa, supaya segera diturunkan hujan. Warga percaya dengan menggelar ritual tersebut hujan segera turun dan bisa bercocok tanam.

Tradisi ini sudah dilakukan tiap tahun secara turun temurun semenjak nenek moyang mereka. Antusias warga yang mengikuti dari berbagai kalangan, mulai dari anak – anak, orang dewasa hingga para sesepuh Desa.

Dengan membawa ember yang dibungkus kain berisi jajanan pasar, warga berkumpul di perempatan jalan desa tersebut. Sebelum kucing dimandikan, acara diawali dengan pembacaan do’a dari sesepuh Desa. Setelah pembacaan do’a selesai barulah kucing dimandikan dengan air dawet.

Subekti, Kepala Desa Bareng memaparkan, kucing yang dimandikan bukan sembarang kucing. Harus mempunyai ciri khusus yakni, kucing laki – laki dengan warna blang telon (tiga warna) yang biasa disebut condromowo.

“Kucingnya harus berjenis kelamin laki – laki mempunyai ciri warna blang telon yang disebut condromowo( condro itu mawas, mowo itu bahaya)” ucapnya saat diwawancarai di lokasi, Jum’at 19/10/18.

Ia menambahkan, kenapa tiga warna? itu mengibaratkan jika kita ingin meminta sesuatu hanya tiga yang perlu di sujud serta sungkem yakni, Gusti ALLOH SWT, kedua orang tua dan guru.

“Tiga warna di ibaratkan meminta kepada Gusti ALLOH SWT, kedua orang tua dan guru. Sedangkan air dawet yakni ngudari barang kang ruwet (melepas hal yang ribet)” imbuhnya.

Usai ritual, kucing dilepaskan kembali dan warga pun membubarkan diri pulang dengan harapan hujan segera turun. @VIN