Kehilangan Istri, Indro Warkop Jadi Duta Gerakan Nasional Peduli Kanker Paru

oleh -

Indro Warkop dan Melly Goeslaw ditahbiskan sebagai duta Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru untuk bersama-sama melakukan kegiatan advokasi serta menggalang dukungan para pemangku kepentingan dalam upaya memerangi kanker paru.

Baik Indro maupun Melly sama-sama memiliki pengalaman pahit berhadapan dengan kanker. “Riwayat keluarga saya yang merupakan penderita kanker telah mendorong saya untuk peduli dan peka dengan situasi kanker di Indonesia. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru,” ujar Melly Goeslaw di sela-sela acara pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Sebagai salah satu duta IPKP Melly berjanji akan membantu menyebarkan informasi mengenai promotif, preventif/pencegahan, deteksi dini, serta diagnosa dan pengobatan kanker paru serta memberikan dukungan penuh untuk teman-teman dan keluarga yang tengah berjuang melawan kanker paru pada saat ini.

“Saya ingin mengajak teman – teman untuk memberikan dukungannya terhadap gerakan ini agar seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai kanker paru dan penanganannya,” ucapnya.

Indro Warkop yang juga didaulat sebagai Duta Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru menerangkan bahwa dukungan dari orang-orang terdekat terutama keluarga mempengaruhi kondisi pasien yang menderita kanker paru. Dia mengenang, saat terdeteksi kanker paru stadium 4, istrinya yang kini sudah tiada, sangat takut kepada penyakit yang dideritanya.

“Saya sangat senang menjadi bagian penting dalam misi ini yaitu sebagai duta gerakan nasional IPKP untuk menyebarkan informasi mengenai kanker paru baik itu pencegahan maupun diagnosa. Melalui gerakan ini, saya ingin masyarakat memahami bahwa dukungan keluarga dan orang-orang terdekat itu sangat penting bagi pasien,” ujarnya.

Situasi Kanker Indonesia telah memasuki zona serius dimana angka kunjungan pasien kanker paru telah meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan 15 tahun yang lalu. Sementara untuk Insiden tertinggi untuk kanker paru di Indonesia adalah pada laki-laki dan 11,2% diantaranya adalah perempuan.

Lantaran itu, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Cancer Information and Support Center (CISC Paru/CISC For Lung), mencanangkan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP).

Dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia 2020, IPKP mengadakan konferensi pers dengan tema Harapan & Tantangan: Penatalaksanaan Kanker Paru di Indonesia. Gerakan ini hadir sebagai wadah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta semua pihak terkait terhadap pentingnya promotif, preventif/pencegahan, deteksi dini, serta diagnosa dan pengobatan kanker paru sesuai pedoman penatalaksanaannya mengingat kanker paru adalah kanker paling mematikan nomor satu yang telah membunuh hampir 1,7 juta orang setiap tahunnya.

Data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyebutkan bahwa insiden tertinggi di Indonesia adalah pada laki-laki dan 11,2% di antaranya adalah perempuan. Bahkan, angka kunjungan pasien kanker paru pada pusat rujukan respirasi nasional meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu.

Bagi pasien dibalik angka ini merupakan perjalanan hidup yang berliku yang harus dilalui tidak saja dengan kesakitan fisik tetapi juga menghadapi beban psikososial dan ekonomi yang dirasakan berdampak pada keluarga bahkan ekonomi negara.

Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC), menyatakan, masyarakat sangat membutuhkan informasi tentang kanker khususnya kanker paru seperti faktor resiko, gejala serta diagnosa dan metode pengobatan yang sesuai dengan pedoman penatalaksanaannya mengingat masih tingginya stigma dan mitos tentang kanker paru.

“Hal ini mendorong kami sebagai wadah pasien / penyintas kanker untuk bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mencanangkan gerakan nasional Indonesia Peduli Kanker Paru. Kedepannya IPKP akan mengajak semua pihak untuk bersama-sama menyelenggarakan upaya penanggulangan kanker paru dan dengan adanya gerakan nasional ini diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi dan memberikan dukungannya dan suara aktif dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker paru di Indonesia.“

Hingga kini, pemerintah terus mengupayakan untuk menekan prevalensi kanker paru melalui optimalisasi fasilitas kesehatan dan pengobatan untuk kanker paru. Namun, inovasi perlu terus dilkembangkan demi pencapaian kualitas hidup yang baik bagi para pasien kanker.

Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FAPSR, FISR selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkapkan lebih dari 80% pasien kanker paru datang setelah stadium lanjut atau stadium IV sehingga dibutuhkan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat luas terkait deteksi dini dan pengobatan kanker paru.

Terkait itu, dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P(K), Ketua Pokja Kanker Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, menambahkan bahwa usaha yang paling penting adalah pengendalian faktor risiko yang perlu ditingkatkan secara masif agar dapat menurunkan jumlah kasus baru beberapa tahun kedepannya.

Dan tentu untuk pasien perlu mendapatkan pengobatan segera. Modalitas pengobatan / terapi kanker paru ditentukan oleh jenis sel kanker, staging penyakit saat ditemukan dan kondisi pasien.

Saat ini tidak ada masalah untuk pilihan pengobatan kanker paru. Standar pengobatan di Indonesia maju dan setara dengan pedoman pengobatan internasional. Modalitas terapi : operasi, terapi radiasi, kemoterapi, terapi target dan imunoterapi dapat diberikan meski pada jenis pengobatan terapi target dan imunoterapi perlu dilakukan pemeriksaan khusus yaitu biomolekuler marker.

“Standar pengobatan kanker paru terkini bisa lebih spesifik dan diharapkan akan meningkatkan harapan hidupnya dengan efek samping yang lebih ringan. Yang lebih penting bahwa ‘Keseluruhan pengobatan ini dapat dilakukan di Indonesia’.”

Megawati Tanto selaku perwakilan CISC for Lung (CISC Paru) yang turut hadir dan membagikan ceritanya dan antusiasmenya dalam mendukung Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru.

“Harapan kami sebagai pasien, dengan adanya wadah ini dan seiring dengan berkembangnya pengobatan kanker, penanggulangan kanker paru yang bermutu dan dapat diakses pasien semua kalangan dapat diprioritaskan di Indonesia. Dengan memberikan pemahaman yang tepat kepada publik, akan membantu pasien untuk menentukan pengobatan yang tepat sehingga kualitas hidup pasien dapat menjadi lebih baik.”

Selain itu, Willem, testimoni CISC for Lung (CISC Paru) yang juga perwakilan grup pasien kanker paru juga menunjukkan antusiasme nya yang dalam atas pencanangan Gerakan Nasional IPKP.

“Saya merasakan manfaat setelah bergabung di komunitas CISC, untuk itu saya sangat mendukung gerakan nasional Indonesia Peduli Kanker Paru, agar masyarakat bisa mendapatkan informasi yang tepat mengenai kanker paru dan dapat segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.”

Untuk memberikan informasi yang tepat mengenai kanker paru dan pengobatannya, Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru berencana meluncurkan website.