Kasus Pemukulan Santri Ponpes Paculgowang Berbuntut Panjang

oleh -

JOMBANG – Kasus pemukulan yang dilakukan oleh oknum keamanan Pondok Pesantren (Ponpes) Tarbiyatunnasyi’in yang berada di Desa Paculgowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, terhadap santrinya berbuntut panjang. Pasalnya, pihak keluarga korban melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Pemukulan tersebut dilakukan oleh dua orang keamanan yakni AI (19) asal Gresik dan SM (18). Sedangkan santri yang menjadi korban bernama MRH (13), asal Desa Badas, Kecamatan Sumobito.

Akibat pemukulan tersebut, korban menderita luka lebam serta memar di wajah. Hingga akhirnya orang tuanya tak terima kemudian memboyong pulang anaknya dan dilanjutkan pelaporan ke kepolisian pada 13 Oktober 2019.

Dari informasi orang tua korban Suwarno (46), peristiwa pemukulan tersebut terjadi di lingkungan asrama pesantren sekitar pukul 03:00 Wib, dua hari sebelum korban diboyong pihak keluarganya. Anaknya tiba-tiba dipukul tanpa sebab yang jelas oleh dua orang keamaan Ponpes.

“Awalnya mengaku katanya disengat lebah, setelah saya desak kemudian mengaku dipukuli oleh keamanan pesantren. Saya kemudian datang untuk klarifikasi ke pihak Pondok tapi gak ada itikat baik malah anak saya disuruh keluar dari Pondok dan Sekolahnya,” ucapnya.

Pihak orang tua korban berharap, Polisi segera mengusut tuntas kasus dugaan kekerasan pada anak dibawah umur ini. Sebab, sejauh ini tidak ada itikat baik dari pihak Pesantren setempat.

Terkait adanya peristiwa tersebut, Penasehat Pondok Pesantren sekaligus Dewan Guru di SMP Terpadu Tarbiyatunnasyiin, Mochammad Adib mengungkapkan, pihaknya tak membantah adanya pemukulan kepada MRH (13), salah satu santri ponpes setempat. Namun semuanya pasti ada penyebabnya.

“Memang benar terjadi pemukulan yang dilakukan oknum keamanan kepada korban. Karena korban (MRH) sudah melakukan tindakan/kesalahan yang melanggar aturan ponpes,” ucapnya pada kabarjatim.com, Sabtu 26/10/19.

Adib menegaskan, dari keterangan pihak keamanan pondok, korban sering kali mengambil uang milik teman satu kamarnya, bahkan korban juga mengaku pernah mengambil uang di kantin pondok serta uang sedekah yang dikumpulkan para santri tiap satu minggu sekali.

“Sekitar satu dua bulan yang lalu pihak keamanan pondok menerima banyak laporan adanya pencurian berupa uang. Kemudian pihak keamanan melakukan pemetaan dan menemukan kecurigaan terhadap lima anak yang patut diduga sebagai pelaku, salah satunya MRH,” jelasnya.

“Selanjutnya kelima anak tersebut dikumpulkan oleh satu oknum keamanan di aula. Kemudian ditanya dengan baik-baik terkait laporan adanya pencurian. Mereka disuruh bicara jujur (kalau mau jujur nanti urusan selesai, dan tidak akan dilaporkan ke siapa-siapa, ucap pihak keamanan). Akhirnya semua mengakui kalau melakukan pencurian,” terang Adib.

Pihak ponpes sangat menyayangkan terkait laporan pihak keluarga korban kepada kepolisian. Namun pihaknya akan mengikuti proses tersebut dan siap bertanggung jawab.

“Setelah korban dibawa pulang keluarganya, hingga saat ini belum ada komunikasi sama sekali. Terkait adanya laporan polisi, kami akan siap mengikuti proses tersebut,” pungkasnya.(RUS)