Kantor Satpol PP Sumenep ‘Digruduk’ Para Pemilik Kos

oleh -
Kantor Satpol PP Sumenep 'Digruduk' Para Pemilik Kos
Kantor Satpol PP Sumenep 'Digruduk' Para Pemilik Kos

SUMENEP – Sejumlah Pemilik rumah kos-kosan di Desa Gedungan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mendatangi kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kabupaten Sumenep. Mereka mempertanyakan terkait razia yang dinilai tidak prosedural. Sebab, para penegak Perda itu melakukan razia tanpa menunjukkan surat tugas.

“Kami protes karena Satpol-PP terkesan tanpa memperhatikan peraturan. Surat tugas tidak ada. Dan yang paling parah kadang Satpol-PP tanpa pamit tiba-tiba melakukan razia,” kata pemilik kos DVY, Encung Sudarsono kepada sejumlah media.

Menurut Encung, akibat Satpol PP yang melakukan razia seenaknya itu, berdampak pada penghuni dan pengunjung yang hendak memakai rumah kosnya.

Anehnya lagi, pengunjung atau tamu malah dimintai KTP tanpa meminta ijin pada pemilik kos. Padahal, yang dimintai KTP itu kadang orang yang hanya bertamu atau teman dari penghuni rumah kos tersebut.

“Ini sangat tidak mengenakkan bagi kami. Hanya bertamu masak diminta KTP. Harusnya tanya penghuninya dulu,” tuturnya.

Selain itu, para penghuni juga tiba-tiba disuruh untuk tes urine ke Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK). Caranya, dengan mengambul kunci sepeda motor milik penghuni sebagai sitaan sementara.

“Mendadak razia terus menelpon pihak BNNK untuk tes urine. Padahal ini tidak jelas apa razia bersama atau bukan,” terangnya.

Dikonfirmasi, Kepala Bidang Ketentraman, Penertiban Umum dan Lintas Masyarakat Fajar Santoso mengaku, razia yang telah pihaknya lakukan sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Termasuk sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

“Kami sudah bekerja sesuai dengan peraturan. Dan kami sudah sesuai dengan protap dari penegak Perda,” terangnya.

Selain itu, Fajar juga menyebut bahwa rumah kos tersebut merupakan rumah kos yang menjadi incaran pihak Satpol-PP. Sebab beberapa kali dilakukan penindakan, rumah kos tersebut selalu ada penyimpangan seperti adanya muda-mudi berduaan bukan muhrim.

“Semua kos menjadi atensi kami. Kami memang sering memantau kossan yang ini. Jadi ya, sering kami kesana,” tandasnya.

Editor : Nurul Arifin